PERISTIWA
Kualitas Udara Memburuk di Pekanbaru, Pendidikan Beralih Daring
Kabut asap akibat karhutla merusak kualitas udara di Pekanbaru, pendidikan beralih daring.
PANTAU24.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau meningkatkan kabut asap di Kota Pekanbaru, merusak kualitas udara, dan memaksa pembelajaran untuk tingkat TK hingga SMP dilakukan secara daring. Berdasarkan data dari BMKG Stasiun Pekanbaru, kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Merespons situasi ini, Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru mengeluarkan surat edaran terkait penyesuaian kegiatan belajar mengajar. “Proses belajar tetap berjalan, tetapi dilaksanakan secara daring dari rumah. Kebijakan ini kita ambil untuk menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik dari paparan kabut asap,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Abdul Jamal, pada Senin (24/8).
Pada pelaksanaan pembelajaran daring ini, Abdul Jamal meminta sekolah untuk menyederhanakan materi dan memastikan tidak ada beban berlebihan bagi siswa. Dinas Pendidikan juga mengimbau orang tua untuk memastikan anak-anak tetap di dalam rumah selama kondisi kualitas udara belum membaik. “Kami minta orang tua menjaga anak-anak tetap di rumah. Kalau memang ada keperluan mendesak untuk keluar, gunakan masker,” ungkapnya.
Kebijakan pembelajaran ini berlaku hanya pada Senin (24/8), dan pelaksanaan di hari-hari berikutnya akan disesuaikan dengan informasi dari BMKG dan instansi terkait. “Kita akan melihat perkembangan kondisi kualitas udara. Untuk kegiatan belajar hari berikutnya akan kita sesuaikan berdasarkan informasi BMKG dan instansi terkait,” kata Abdul Jamal berharap kondisi udara segera membaik.
Karhutla juga mempengaruhi jarak pandang di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai, menyulitkan pengendara terutama di malam hari. Salah satu pengendara, Nasrio, merasakan ketebalan asap sejak memasuki pintu tol. “Kondisi di tol malam ini sudah buram,” katanya. Menurut BMKG Pekanbaru, terdapat 306 titik panas di Riau dengan titik terbanyak di Kabupaten Pelalawan.
Diolah dari laporan Kumparan.


You must be logged in to post a comment Login