PERISTIWA
Ekonomi Iran Tertekan, AS Hadapi Dampak Balik
Ketegangan meningkat saat AS menekan ekonomi Iran dengan isolasi total, namun menghadapi tantangan balik.
PANTAU24.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat setelah AS mengubah strategi menghadapi Iran, dengan fokus pada tekanan ekonomi. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada 19 Agustus menyatakan AS akan melakukan operasi tekanan ekonomi ekstrem untuk mengisolasi ekonomi Iran sepenuhnya.
Langkah ini diikuti oleh tindakan Emirat Arab (EA) yang memberlakukan embargo perdagangan terhadap Iran. Meskipun EA mengklaim embargo tersebut sebagai respons terhadap serangan rudal dari Iran, Teheran menolak klaim ini. Embargo EA, negara yang menjadi salah satu akses keuangan Iran ke pasar global, diharapkan akan menggerakkan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) lainnya untuk melakukan hal yang sama.
Namun, langkah EA dapat membahayakan posisinya sendiri, terutama mengingat meningkatnya ketegangan dengan Arab Saudi terkait perang di Yaman dan keputusan EA untuk keluar dari OPEC. Iran menanggapi tindakan AS tersebut dengan keras. Pada 22 Agustus, Mohsen Rezaee, Kepala Dewan Keamanan Tertinggi Iran, menyatakan bahwa negara yang mendukung kebijakan AS akan menjadi target balasan Iran yang tidak proporsional.
Kemungkinan besar, isolasi ekonomi terhadap Iran tidak akan menghasilkan perubahan rezim karena Iran telah menghadapi sanksi AS dan Barat sejak Revolusi Iran 1979. Dukungan dari Tiongkok dan Rusia, yang memiliki hubungan erat dengan Iran, juga mengurangi efek sanksi ini.
Strategi AS ini berpotensi memperluas konflik tidak hanya di Timur Tengah tetapi juga di luar kawasan tersebut. Sejak serangan Saudi yang mengganggu jalur perkapalan penting, termasuk Selat Bab el-Mandeb, milisi Houthi yang didukung Iran turut berkontribusi dalam memperburuk situasi dengan menyerang infrastruktur minyak Saudi.
Diolah dari laporan Media Indonesia.


You must be logged in to post a comment Login