PERISTIWA
Bos BI Sebut Harga Minyak Tak Terbayang Kembali ke US$80
Bos BI, Destry Damayanti, tak terbayang harga minyak turun ke US$80 karena konflik Timur Tengah memperpanjang inflasi global.
PANTAU24.com – Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan pandangannya mengenai risiko inflasi global yang berpotensi berlanjut. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah harga minyak dunia yang masih tinggi. Destry mengaku tidak pernah terbayang bahwa harga minyak mentah bisa kembali ke level US$80 per barel, mengingat situasi konflik di Timur Tengah yang belum berakhir.
“Kita enggak pernah bisa membayangkan minyak itu bisa kembali lagi di level 80 dolar dalam waktu pendek, jangka pendek ini,” kata Destry dalam acara Pembukaan Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Pada saat ini, harga minyak mentah dunia masih berada di atas US$100 per barel. Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent turun 82 sen atau 0,7 persen menjadi US$114,50 per barel pada pukul 01.32 GMT, sementara harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan lebih dalam sebesar US$1,04 atau 1 persen ke level US$101,74 per barel.
Destry juga mengungkapkan bahwa tingginya harga minyak berdampak pada inflasi tinggi di Amerika Serikat, yang memaksa The Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat yang tinggi. “Targetnya 2%, inflasinya di atas 3,5%, kemudian juga mereka menghadapi situasi bond yield juga yang tinggi, harga minyak juga tinggi,” ungkap Destry.
Menurut Destry, tren suku bunga acuan yang tinggi akan mempengaruhi perekonomian domestik. “Semuanya serba tinggi sehingga menyebabkan itu dampaknya adalah ke kita, di mana kalau bond yield yang mereka naik, bahkan yang 10 tahun sempat mencapai 5,3%, sekarang sudah agak turun di 5%, tapi tetap saja dibandingkan kondisi normal 3%, itu kan peningkatannya jauh sekali,” jelasnya.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.


You must be logged in to post a comment Login