PERISTIWA
Mengapa Penderitaan Masih Ada Jika Tuhan Maha Kuasa?
Mengurai pertanyaan klasik: Mengapa penderitaan ada jika Tuhan Maha Kuasa? Eksplorasi teodise menjawab pertanyaan ini.
PANTAU24.com – Pertanyaan mengenai keberadaan penderitaan di tengah keyakinan akan Tuhan yang Maha Kuasa telah lama menggugah batin manusia. Sejarah mencatat perdebatan ini mulai dari bencana alam hingga kezaliman, menantang keyakinan terhadap sifat maha pengasih dan maha kuasa Tuhan. Epikurus, filsuf Yunani Kuno, menyusun pertanyaan mendasar yang merangkum kegelisahan ini. ‘Jika Tuhan ingin mencegah kejahatan namun tidak sanggup, berarti Dia tidak Mahakuasa. Jika Dia sanggup tetapi tidak bersedia, apakah itu berarti Dia tidak Maha penyayang?’
Teodise, sebuah diskursus yang mencoba menjawab pertanyaan ini, pertama kali disistematisasikan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada tahun 1710. Diskursus ini berusaha mempertahankan keluhuran dan keadilan Tuhan di hadapan kenyataan dunia yang penuh penderitaan. Menurut Leibniz, dunia saat ini adalah kombinasi terbaik dari semua kemungkinan dunia yang Tuhan ciptakan.
Pemikiran filsafat Barat mengenai teodise banyak berfokus pada konsep kehendak bebas dan pengembangan jiwa. Santo Agustinus mengemukakan bahwa kejahatan adalah bentuk kehilangan kebaikan, bukan kehadiran substansi sejati, serupa dengan kegelapan yang merupakan absennya cahaya. Kemudian, filsuf Alvin Plantinga melanjutkan argumen ini dengan mengatakan bahwa dunia dengan makhluk bebas memilih antara kebaikan dan kejahatan lebih berharga daripada dunia dengan makhluk tanpa pilihan.
Di sisi lain, filsuf John Hick melalui pilar yang dikembangkan dari Irenaeus, berpendapat bahwa dunia ini adalah bengkel pembentukan jiwa, bukan tempat tanpa penderitaan. Penderitaan diperlukan untuk mengembangkan karakter luhur manusia. Menurutnya, karakter seperti keberanian dan solidaritas tidak dapat tumbuh di lingkungan yang steril dari tantangan.
Dalam tradisi intelektual Islam, perdebatan mengenai penderitaan juga menciptakan diskusi mendalam. Kelompok Mu’tazilah, dipelopori oleh tokoh seperti Al-Qadhi ‘Abd al-Jabbar, menekankan bahwa Tuhan selalu melakukan hal yang terbaik dan paling maslahat bagi umat-Nya. Jika ada yang menderita tanpa dosa, asumsi mereka adalah adanya kompensasi dari Tuhan di kehidupan setelah dunia.
Diolah dari laporan Kumparan.


You must be logged in to post a comment Login