Connect with us

PERISTIWA

China Hadapi Dilema: Pilih Dolar AS atau Dukung Iran

China hadapi dilema antara mempertahankan perdagangan global dengan dolar AS atau mendukung Iran di tengah ancaman sanksi AS.

Published

on

PANTAU24.com – China menghadapi dilema ketika Amerika Serikat mengancam akan memutus akses ke sistem keuangan AS bagi entitas yang membantu Iran menghindari sanksi. Meski Beijing sangat membutuhkan dolar AS untuk perdagangan global, China juga memperkuat sistem keuangan alternatif guna mengurangi tekanan dari Washington.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan entitas yang terlibat dalam pencucian uang atau penghindaran sanksi atas nama Iran bisa kehilangan akses ke sistem keuangan AS. “Jika mereka memfasilitasi transaksi dan menjadi bagian dari ekosistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang, menjadi alat penindasan, maka mereka akan menjadi sasaran,” kata Bessent mengacu pada bank-bank China, dilaporkan CNBC International.

China menanggapi dengan menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan penolakan Beijing terhadap sanksi sepihak yang dinilai tidak memiliki dasar hukum internasional maupun mandat Dewan Keamanan PBB. China adalah pembeli terbesar minyak Iran, membeli lebih dari 80% minyak yang dikirim via laut menurut data Kpler dikutip Reuters. Hal ini menjadikan hubungan perdagangan kedua negara penting dalam efektivitas kampanye tekanan ekonomi Washington.

Meskipun dihadapkan ancaman sanksi, China tetap mempertahankan kepentingannya untuk mengakses sistem dolar AS. Mata uang dolar masih memainkan peran penting dalam perdagangan dan keuangan internasional. Namun, China juga telah mengembangkan sistem pembayaran lintas negara yang dikenal sebagai Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), untuk mengurangi ketergantungan pada infrastruktur keuangan berbasis dolar.

Direktur pelaksana Z-Ben di Shanghai, Peter Alexander, mendeskripsikan CIPS sebagai bentuk diversifikasi dan instrumen lindung nilai geopolitik. Sementara itu, Tianchen Xu dari The Economist Intelligence Unit menyatakan dominasi dolar AS membuat langkah pemutusan akses jadi pedang bermata dua, “China jelas ingin tetap berada dalam sistem dolar, namun hal itu tidak berarti mereka akan mematuhi semua sanksi AS yang terus berkembang,” ujarnya. Alexander menambahkan, “Persoalan utama ke depan bukan sekadar tindakan Washington, tetapi apakah AS benar-benar berani mengguncang hubungan ekonomi kedua negara.”

Fakta menarik dan bermanfaat

Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.