PERISTIWA
Bank Indonesia Pertahankan BI Rate di 5,75 Persen, Ekonom: Langkah Tepat
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75 persen. Ekonom CORE menilai ini keputusan tepat di tengah ketidakpastian global.
PANTAU24.com – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan, yang dikenal sebagai BI Rate, pada tingkat 5,75 persen. Langkah ini dinilai oleh Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet sebagai tindakan yang mencerminkan kehati-hatian di tengah ketidakpastian global. Keputusan ini diambil setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga total 100 basis poin pada Mei dan Juni.
“Menurut saya, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75 persen hari ini cukup terukur dan mencerminkan kehati-hatian di tengah ketidakpastian global,” jelas Yusuf kepada Media Indonesia, Rabu (19/8). Dia menambahkan bahwa penahanan suku bunga memberikan waktu agar dampak kenaikan sebelumnya dapat terserap lebih baik di pasar.
Yusuf juga menjelaskan bahwa kondisi ekonomi domestik yang relatif solid mendukung keputusan ini, dengan inflasi Juli tercatat 2,88 persen secara tahunan dan ekonomi kuartal II tumbuh sebesar 5,29 persen. “Belum ada kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga, tetapi juga belum cukup alasan untuk langsung memangkasnya,” kata Yusuf. BI juga masih memiliki instrumen lain untuk menjaga stabilitas, seperti intervensi valas dan instrumen likuiditas lainnya.
Menurut Yusuf, jika BI menaikkan BI Rate lebih lanjut, akan ada risiko menekan kredit, investasi, dan daya beli masyarakat. Sebaliknya, pemangkasan yang terlalu cepat dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, terutama mengingat risiko geopolitik dan fluktuasi harga minyak. Oleh karena itu, mempertahankan BI Rate di 5,75 persen dipandang sebagai keputusan yang tepat.
Yusuf menambahkan bahwa yang terpenting saat ini adalah memastikan transmisi kebijakan moneter ke suku bunga kredit berjalan dengan baik agar stabilitas rupiah dan inflasi tetap terjaga tanpa terlalu menekan sektor riil. “Data inflasi Agustus dan September serta perkembangan geopolitik akan menjadi penentu ruang kebijakan BI selanjutnya,” pungkas Yusuf.
Diolah dari laporan Media Indonesia.


You must be logged in to post a comment Login