Connect with us

PERISTIWA

Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Berdampak pada Berbagai Aktivitas

Erupsi Anak Krakatau berdampak pada penerbangan dan pendidikan. Abu vulkanik tersebar hingga ketinggian 50.000 ft.

Published

on

PANTAU24.com – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Jumat (4/9/2026) malam masih berdampak pada sejumlah daerah, memengaruhi penerbangan dan kegiatan pendidikan. Wilayah Lampung, Jabodetabek, dan Banten mengambil kebijakan pembelajaran jarak jauh untuk menjaga keselamatan siswa dari paparan abu vulkanik. Selain itu, ribuan penerbangan dibatalkan sebagai langkah antisipasi bahaya.

Menurut data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga pukul 07.00 WIB, sebaran abu vulkanik Anak Krakatau terbagi dalam dua klaster. Klaster pertama mengarah tenggara-barat laut hingga ketinggian 15.000 ft, meliputi Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, dan Samudra Hindia bagian barat Bengkulu. Klaster kedua menjangkau ketinggian hingga 50.000 ft ke arah barat daya-barat, juga mencakup Samudra Hindia bagian barat – barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten, menjauhi wilayah Indonesia.

Dr. Ida Pramuwardani, Direktur Meteorologi Publik BMKG, menyatakan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi seberapa jauh dan lama debu vulkanik dapat bertahan di udara, seperti kekuatan erupsi, ukuran partikel, dan kondisi atmosfer. “Namun, BMKG bisa memantau sebaran debu vulkaniknya,” ungkap Ida kepada Liputan6.com pada Senin (7/9/2026).

Kepala Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG, Achadi Subarkah, menjelaskan bahwa tinggi kolom erupsi, arah dan kecepatan angin, serta ukuran partikel yang terlontar menentukan penyebaran abu. Partikel kecil bisa bertahan lebih lama di udara dan tersebar luas jika angin bertiup kencang.

Hujan dapat mengurangi sebaran debu melalui proses kondensasi, seperti yang dijelaskan oleh Ida, tetapi belum tentu efektif untuk partikel di ketinggian ekstrem. “Awan hujan umumnya terbentuk pada ketinggian 3.000 – 45.000 ft, sehingga di atas 45.000 ft debu akan tetap ada,” jelasnya.

Fakta menarik dan bermanfaat

Diolah dari laporan Liputan 6.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.