PERISTIWA
Keamanan Konsumsi Ayam Berwarna Menurut Ahli IPB
Pakar IPB menjelaskan keamanan konsumsi dan praktik pewarnaan pada anak ayam berwarna-warni.
PANTAU24.com – Anggapan masyarakat mengenai kelayakan konsumsi anak ayam berwarna-warni setelah dewasa sering menimbulkan perdebatan. Gilang Ayuningtyas, SPt, MSi, Dosen Sekolah Vokasi IPB University, memberikan penjelasan ilmiah terkait isu ini untuk meluruskan kesalahpahaman yang beredar.
Menurut Gilang, anak ayam berwarna atau yang sering disebut day-old chick (DOC) berwarna bukanlah untuk budi daya komersial. Ayam-ayam ini biasanya berasal dari kelompok ayam broiler yang tidak lolos seleksi kualitas atau grade out. “Pewarnaan dilakukan oleh oknum produsen atau pedagang agar anak ayam tampak unik dan memiliki nilai jual sebagai hewan hiburan bagi anak-anak,” ujarnya.
Gilang menjelaskan bahwa warna cerah pada ayam tersebut perlahan memudar seiring bertambahnya usia. Hilangnya warna ini terjadi secara alami karena proses biologis. Namun, terkait keamanan konsumsi, hilangnya warna tidak otomatis menjamin daging ayam aman dimakan. Kuncinya terletak pada jenis bahan kimia yang digunakan saat pewarnaan awal hidup ayam.
“Penilaian keamanan pangan perlu mempertimbangkan jenis bahan pewarna, metode aplikasi, serta kemungkinan adanya residu kimia pada jaringan tubuh yang harus dibuktikan melalui uji laboratorium,” jelasnya. Praktik pewarnaan ini juga mendapat kritik dari sisi kesejahteraan hewan (animal welfare), karena proses pewarnaan dapat memicu stres berat hingga hipotermia pada ayam.
Gilang mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dalam memastikan layaknya konsumsi daging ayam tersebut. Evaluasi keamanan produk hewan dan pemeriksaan residu kimia secara menyeluruh diperlukan untuk menghindari dampak buruk bagi kesehatan manusia.
Diolah dari laporan Media Indonesia.


You must be logged in to post a comment Login