Connect with us

PERISTIWA

Kemendag Jelaskan Penyebab Kenaikan Harga Tepung Tapioka

Kementerian Perdagangan menjelaskan bahwa kenaikan harga tepung tapioka tidak terkait dengan kebijakan impor lartas. Pembahasan sedang berlangsung.

Published

on

PANTAU24.com – Kementerian Perdagangan (Kemendag) memberikan tanggapan atas keluhan masyarakat terkait tingginya harga tepung tapioka. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menegaskan bahwa kenaikan harga tepung tapioka ini tidak berkaitan dengan kebijakan larangan terbatas (lartas) impor tepung tapioka, yang telah diterapkan pada 2025. “Nggak ada, nggak ada,” kata Tommy saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta Pusat, Jumat (6/11/2026).

Tommy menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah membahas penyebab kenaikan harga tepung tapioka melalui rapat koordinasi terbatas dengan kementerian dan lembaga. Rapat tersebut dilaksanakan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang juga turut membahas neraca komoditas tepung tapioka dan singkong pada 2027 mendatang.

“Ya kan ada dalam proses pembahasan di Menko Pangan. Dalam neraca komoditas itu dibahas terkait dengan apa, impor bahan-bahan baku itu. Nah, itu masih dalam proses pembahasan lah ya, kan baru muncul, ya,” lanjut Tommy. Lartas impor tepung tapioka diberlakukan sebagai respons untuk mengatasi krisis harga singkong akibat minimnya penyerapan hasil panen lokal, yang diumumkan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, pada Jumat (19/9/2025).

Kebijakan tersebut didukung oleh Kemendag melalui dua Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag). Pertama, Permendag 31/2025 yang mengatur impor ubi kayu dan turunannya melalui Persetujuan Impor (PI) hanya untuk pemegang API-P dengan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian atau Neraca Komoditas. Kedua, Permendag 32/2025 yang memuat pengetatan impor etanol demi menjaga stabilitas harga molase, melindungi petani tebu, dan mendukung swasembada gula serta energi hijau.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengomentari keluhan mengenai kenaikan harga tepung tapioka dengan menyatakan bahwa produksi singkong dalam negeri berlebih. Hal ini membuka peluang ekspor singkong ke pasar luar negeri dengan harga yang lebih baik. “Kalau itu mungkin kan produksi singkong kita banyak, kan. Diekspor kan berarti berlebih. Dia mau mengekspor mereka, masyarakatnya. Mungkin harganya di negara tujuan pasti lebih bagus. Ya kan? Pasti lebih bagus,” ujar Amran kepada CNN Indonesia.

Fakta menarik dan bermanfaat

Diolah dari laporan Detik – Finance.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.