Connect with us

PERISTIWA

FBI Ungkap Modus Peretasan Binanse oleh Hacker Korea Utara

FBI mengungkap peretasan Binance senilai Rp114 triliun oleh hacker Korea Utara.

Published

on

PANTAU24.com – Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) telah mengaitkan Korea Utara dengan kasus pencurian aset virtual senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun dari platform bursa mata uang kripto, Binance. Kejahatan siber ini dilakukan dengan mengonversi aset curian, terutama ke dalam mata uang kripto Ethereum, sebagaimana diungkapkan FBI dalam sebuah pernyataan resmi pada Sabtu.

FBI menuding kelompok yang dikenal dengan sebutan TraderTraitor sebagai pelaku dari operasi peretasan ini. Sebelumnya, kelompok yang sama juga diduga bertanggung jawab atas pencurian senilai US$1,5 miliar dari platform Bybit yang terjadi pada Februari tahun lalu.

Pernyataan dari FBI juga menyebutkan bahwa aset curian tersebut kemungkinan besar akan dimasukkan kembali ke dalam sistem melalui praktik pencucian uang yang berlangsung bertahap. Lembaga dari Amerika Serikat ini meminta penyedia layanan aset virtual untuk menghentikan transaksi yang terkait dengan aktivitas pencucian uang ini. Mereka juga menyediakan alamat digital yang diduga berhubungan dengan aktivitas tersebut untuk diwaspadai.

Sementara itu, pada Sabtu, Binance menyatakan bahwa mereka telah menggantikan 90% dari jumlah aset yang dicuri. Langkah ini dilakukan dengan menggunakan dana perusahaan untuk membeli token baru. Lagi pula, 10% aset sisanya masih dalam proses pembelian, terutama karena berupa token dengan likuiditas lebih rendah. “Kami akan terus membeli sisa aset hingga jumlah yang ditanggung mencapai 100% untuk seluruh token. Binance akan menanggung dampak keuangan dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami,” kata perusahaan tersebut melalui platform X.

Untuk mendukung langkah ini, Binance menggunakan Secure Asset Fund for Users (SAFU) yang bernilai US$1 miliar sebagai cadangan. Dana tersebut dimaksudkan untuk melindungi nasabah jika terjadi pelanggaran keamanan. Co-CEO Binance, Richard Teng, menjelaskan bahwa peretasan ini merupakan “serangan kompleks” yang melibatkan penggunaan perangkat lunak berbahaya, sehingga sulit untuk dilacak dan diselidiki. Upaya untuk menghentikan sementara penarikan dana oleh nasabah juga dilakukan oleh Binance setelah insiden tersebut. Proses pembukaan kembali layanan penarikan ini berjalan sesuai rencana, dan diharapkan dapat berfungsi kembali pada Minggu.

Fakta menarik dan bermanfaat

Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply