PERISTIWA
Tantangan NU dalam Menghidupkan Turats Usai Muktamar
Muktamar ke-35 NU menghadirkan tantangan baru untuk organisasi, terutama dalam menghidupkan turats.
PANTAU24.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang baru saja usai membawa sejumlah tantangan bagi organisasi, terutama dalam menerjemahkan keputusan Muktamar menjadi pengetahuan, kebijakan, dan tindakan konkret yang menjawab kebutuhan masyarakat. Pekerjaan utama ini bukan hanya menjaga kesinambungan organisasi, tetapi juga kemampuan membaca perubahan zaman.
Kepemimpinan baru NU kini harus beradaptasi dengan berbagai tantangan, mulai dari ketimpangan fasilitas di madrasah, adaptasi pesantren dengan teknologi, kemiskinan warga nahdliyin, hingga penanganan dampak perubahan iklim pada petani. Selain itu, generasi muda kini memperoleh pengetahuan agama melalui media sosial, yang menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi.
Muktamar diharapkan tidak sekadar menjadi forum pergantian atau peneguhan kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk mengevaluasi cara NU memahami persoalan, merumuskan kebijakan, mengembangkan pendidikan, dan menjalankan peran sosial-keagamaannya. Sukses Muktamar diukur dari sejauh mana keputusan dapat berubah menjadi aksi, penelitian yang menghasilkan rekomendasi, pendidikan yang memperbaiki kualitas manusia, dan gerakan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.
Relevansi turats, yang meliputi kitab kuning, halaqah, dan sanad keilmuan, semakin penting. Turats bukan sekadar pendapat ulama masa lalu yang harus diulang tanpa perubahan. Ia perlu dihidupkan sebagai sumber pembaruan pemikiran, kebijakan, dan gerakan sosial, bukan sekadar identitas yang dijaga.
Tradisi intelektual NU mengedepankan i‘ādat al-naẓar atau peninjauan kembali, agar tradisi tidak membeku dan tetap relevan dengan zaman. Pembedaan antara al-tsawabit (hal-hal tetap) dan al-mutaghayyirat (hal-hal bisa berubah) menjadi penting dalam menjaga prinsip agama sekaligus relevansi.
Diolah dari laporan Kumparan.


You must be logged in to post a comment Login