PERISTIWA
Biomassa Kedondong: Energi Baru dari Desa di Kupang
Pemanfaatan kayu kedondong di Desa Nitneo untuk co-firing PLTU Bolok tingkatkan energi terbarukan.
PANTAU24.com – Di Desa Nitneo, Kecamatan Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur, praktik pemanfaatan biomassa dari kayu kedondong hutan menjadi bagian dari transisi energi yang dijalankan pemerintah. Dengan konsumsi biomassa meningkat 8,95% secara tahunan, desa ini berkontribusi bagi PLTU Bolok melalui program co-firing, menggantikan sebagian penggunaan batu bara.
Rio Kause dan Romaldus Tobe, dua warga desa, terlibat dalam pengumpulan potongan dahan kedondong hutan yang dipilah berdasarkan ukuran sebelum diolah menjadi woodchip di pabrik Timor Bio Energy (TBE). “Kami tidak menebang seluruh pohon. Hanya memotong dahan, batang utama dibiarkan tetap berdiri,” kata Rio Kause, yang bersama rekannya memasok tiga ton kayu per hari dari lahan dua hingga tiga hektare.
Setelah diproses di pabrik, woodchip tersebut dikirim ke PLTU Bolok yang berjarak sekitar lima kilometer. Dengan kapasitas 2 x 16,5 megawatt, PLTU ini memasok listrik ke sistem kelistrikan Pulau Timor. Pandhu Setyo Wibowo dari PLN Unit Pelaksana Pembangkitan Timor mengungkapkan bahwa 980 ton biomassa telah digunakan sepanjang Januari hingga September 2026, menghasilkan sekitar 800 MWh energi listrik.
Dari bisnis ini, Rio dan Romaldus memperoleh pendapatan kotor hingga Rp5,4 juta per minggu setelah mengurangi biaya operasional dan pembelian pohon. Usaha mereka juga melibatkan sekitar 360 warga dari tiga desa pesisir lain, yakni Tablolong, Batakte, dan Tesabela. Pemasok perorangan seperti Daniel Mbau turut serta, mengirim sekitar 20 rit kayu per bulan dari lahan kebunnya.
Meskipun kontribusi biomassa pada PLTU Bolok baru sekitar 2% dari total bahan bakar, pemanfaatannya mengurangi ketergantungan pada batu bara. Ini merupakan langkah kecil namun signifikan dalam upaya meningkatkan penggunaan energi terbarukan di Indonesia.
Diolah dari laporan Media Indonesia.


You must be logged in to post a comment Login