PERISTIWA
Amerika Serikat Pertimbangkan Gunakan MOAB untuk Serang Iran
Amerika Serikat pertimbangkan penggunaan bom MOAB untuk serang Iran, menyusul perkembangan militer terbaru.
PANTAU24.com – Militer Amerika Serikat (AS) tengah mempertimbangkan penggunaan bom non-nuklir terbesarnya, GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), untuk menyerang Iran. Menurut laporan eksklusif dari CNN yang mengutip sejumlah pejabat AS, bom tersebut termasuk dalam opsi serangan militer yang disiapkan jika Presiden Donald Trump memerintahkan operasi militer terhadap Iran.
Sumber-sumber menyatakan bahwa rencana serangan ini mencakup infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran, termasuk situs bawah tanah di Pickaxe Mountain. Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan, “Presiden Trump tetap membuka semua opsi untuk memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.” Meski demikian, hingga saat ini belum ada keputusan resmi mengenai penggunaan MOAB.
Pertimbangan penggunaan bom ini muncul di tengah tekanan terhadap Trump untuk mengakhiri konflik panjang dengan Iran yang tidak populer di dalam negeri. Militer AS terus menyiapkan berbagai skenario serangan lain, tetapi sejumlah pejabat meragukan bahwa tindakan militer lebih lanjut dapat memberikan kemenangan strategis, sementara efektivitas MOAB untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah juga dipertanyakan.
MOAB, seberat sekitar 9.800 kilogram, dirancang untuk menghasilkan ledakan dahsyat di area luas, tetapi tidak khusus dibuat untuk menembus fasilitas yang terlindungi lapisan batu keras. “MOAB adalah senjata yang lebih berfungsi sebagai sarana operasi informasi berskala masif,” ujar seorang sumber yang mengetahui diskusi perencanaan militer. Selain dampak destruktifnya, penggunaan MOAB juga dapat memberikan dampak psikologis yang signifikan.
Diskusi ini berlangsung di tengah dilema Trump yang ingin mengakhiri konflik namun khawatir penarikan pasukan Amerika Serikat akan dianggap sebagai kelemahan. MOAB pertama kali dikembangkan pada 2003 dan digunakan pada April 2017 untuk menyerang kelompok ISIS di Afghanistan, menghasilkan dampak signifikan dalam operasi tersebut.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.


You must be logged in to post a comment Login