Connect with us

PERISTIWA

Rolex Semakin Sulit Didapat di Pasar Internasional

Rolex semakin sulit didapat di pasar karena tingginya permintaan. Kekurangan pasokan ini menambah tekanan pada harga dan ketersediaan produk.

Published

on

PANTAU24.com – Tingginya permintaan terhadap produk jam tangan Rolex telah menyebabkan kesulitan dalam mendapatkannya di pasar internasional, meskipun produksi mencapai 1,15 juta unit per tahun. Kondisi ini memaksa konsumen menghadapi sistem daftar tunggu yang panjang bahkan harus beralih ke pasar sekunder dengan harga yang lebih tinggi.

Produksi Rolex yang tidak sebanding dengan lonjakan permintaan menyebabkan produk ini menjadi sangat langka. Model populer seperti Rolex Submariner “Starbucks” di pasar sekunder dijual dengan harga sekitar 15 persen lebih mahal dibanding harga resmi. Peningkatan permintaan khususnya terjadi sejak pandemi COVID-19, di mana terjadi pergeseran konsumsi barang mewah berukuran kecil.

Rolex, produsen jam tangan mewah terbesar di dunia, mencatatkan pendapatan tahunan sekitar 11 miliar franc Swiss atau USD 13,4 miliar. Kesuksesan ini didukung oleh konsistensi desain, sejarah yang kuat sejak 1905, serta strategi pemasaran yang mengaitkan produk dengan prestise dan pencapaian pribadi. Kesenjangan pasokan ini semakin melebar pasca-pandemi, membuat staf butik kini bekerja berdasarkan alokasi unit, bukan sekadar mengejar target penjualan.

Beralih ke konteks Amerika Serikat, pertumbuhan lapangan kerja nonpertanian mengalami pelambatan tajam pada September 2026 dengan tambahan hanya 29.000 pekerjaan, jauh di bawah proyeksi awal 90.000 pekerjaan. Situasi ini, ditambah dengan peningkatan tingkat pengangguran menjadi 4,2 persen, berpengaruh pada dinamika kebijakan moneter The Fed.

Kondisi tenaga kerja yang melemah tersebut mengurangi ekspektasi atas kenaikan suku bunga acuan The Fed dalam pertemuan 27-28 Oktober. Meskipun peluang kenaikan suku bunga sempat turun hingga 13 persen, kemungkinannya kembali ke 23 persen mengikuti data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan. Pelaku pasar tetap mempertimbangkan potensi kenaikan suku bunga pada Desember jika inflasi belum mencapai target 2 persen.

Fakta menarik dan bermanfaat

Diolah dari laporan Kumparan.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.