Connect with us

PERISTIWA

Produksi Timah Belitung Melonjak, RKAB TINS 3.000 Ton Habis Cepat

Produksi timah Belitung melonjak, RKAB TINS 3.000 ton habis dalam 2,5 bulan. Hilirisasi industri dalam negeri meningkat signifikan.

Published

on

PANTAU24.com – Produksi logam timah PT Timah Tbk di Belitung mengalami lonjakan signifikan, dengan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebanyak 3.000 ton pada tahun 2026 telah habis terserap dalam waktu 2,5 bulan. Peningkatan ini merupakan bagian dari mandat hilirisasi yang sedang dijalankan oleh perseroan.

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menyatakan bahwa peningkatan porsi pengolahan di dalam negeri dari sebelumnya sekitar 3 persen menjadi 16 persen adalah langkah konkret menuju hilirisasi. Sebelumnya, hampir 95 persen produksi logam timah diekspor, dengan kurang dari 3 persen yang dimanfaatkan untuk industri domestik.

“(Sebelumnya) hanya kurang dari 3 persen yang dimanfaatkan di dalam negeri. Tapi alhamdulillah sampai dengan hari ini, hari minggu kemarin terakhir, kami sudah bisa memproses jadi dari 3 persen sekarang menjadi 16 persen atau dari segi tonase sekitar 200 ton logam Timah yang diproses menjadi bahan-bahan industri di dalam negeri,” kata Restu dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (15/9).

Restu menambahkan target jangka panjang PT Timah untuk meningkatkan porsi pengolahan dalam negeri hingga 20 persen pada tahun 2026. Hal ini menciptakan fokus yang lebih besar pada hilirisasi dan mengurangi ketergantungan pada ekspor.

Peningkatan aktivitas penambangan di Belitung turut membuka peluang produksi yang sebelumnya terkendala. Awalnya, produksi tahunan hanya sekitar 1.000-1.200 ton, namun telah melonjak hingga mencapai sekitar 10.000 ton akibat adanya pengendalian terhadap kebocoran produksi.

Fakta menarik dan bermanfaat

“Jadi hampir 10 kali lipat karena kebocoran bisa tertutup. Tetapi akibatnya di lapangan masyarakat yang terus menambang tidak terakomodir di RKAB. Jadi sehingga dua setengah bulan sudah tertutup sehingga PT Timah tidak bisa menyerap timahnya lagi,” jelas Restu.

Diolah dari laporan Kumparan.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.