PERISTIWA
PTBA Kehilangan Potensi Laba Rp 14,5 Triliun Akibat DMO
PTBA hadapi kehilangan potensi laba Rp 14,5 triliun akibat pemenuhan DMO lebih dari 54%, dua kali lipat dari ketentuan pemerintah.
PANTAU24.com – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melaporkan potensi kerugian laba hingga Rp 14,5 triliun akibat pemenuhan pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri yang melampaui ketentuan. PTBA mengalokasikan lebih dari 54% produksi batu bara untuk Domestic Market Obligation (DMO), dua kali lipat dari batas minimum 25% yang ditetapkan oleh pemerintah.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI, Selasa (15/6/2026), menjelaskan bahwa pemenuhan kewajiban DMO perusahaan selalu berada di atas persentase yang dipersyaratkan sejak 2018 hingga 2025. “Kemudian Bapak, Ibu, hadirin yang kami hormati, ini yang selalu menjadi isu yang sangat menyita perhatian bahwa DMO atau Domestic Market Obligation yang dipersyaratkan yang seharusnya itu 25% berdasarkan Peraturan Menteri, tetapi pada kenyataannya PT Bukit Asam melaksanakan tugas DMO itu selalu lebih dari 54%,” ungkap Bambang.
PTBA menargetkan alokasi batu bara domestik pada 2026 sebesar 17,7 juta ton. Hingga Agustus 2026, perusahaan telah menyuplai 12,8 juta ton batu bara untuk kepentingan domestik, setara 45% dari total produksi. Hingga Semester I-2026, produksi batu bara untuk pasar domestik mencapai 51%, sedangkan ekspor 49%, dengan tujuan utama ke Vietnam, Bangladesh, Kamboja, dan India.
PTBA, dengan cadangan 2,88 miliar ton atau 9,01% dari total cadangan nasional, menilai kelebihan realisasi DMO sebagai dampak dari pelaksanaan kewajiban domestik yang kurang dipatuhi oleh pelaku usaha tambang lain. “DMO ini selalu setiap tahun menjadi persoalan karena dari sisi kami melihatnya perusahaan-perusahaan batu bara di lain perusahaan itu cenderung kurang mematuhi DMO, sehingga selalu yang menjadi tumpuan adalah PT Bukit Asam,” tandas Bambang.
Pada Semester I-2026, PTBA memproduksi 19,45 juta ton batu bara dengan penjualan 21,1 juta ton, mengalami lonjakan laba bersih 218% menjadi Rp 2,65 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh pemulihan operasional dan peningkatan volume penjualan ekspor di tengah tren kenaikan harga jual rata-rata batu bara global.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.


You must be logged in to post a comment Login