PERISTIWA
Intensitas Erupsi Anak Krakatau Menurun, Namun Kewaspadaan Tetap Diperketat
Intensitas erupsi Anak Krakatau menurun, namun Badan Geologi pertahankan kewaspadaan dengan status Siaga.
PANTAU24.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tetap ketat, meskipun intensitas erupsi telah menurun. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan pada Jumat di Jakarta bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan perubahan setelah satu episode erupsi berlanjut selama sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026.
Setelah periode tersebut, aktivitas gunung api berangsur menjadi lebih tenang dan beralih ke erupsi Strombolian. Namun, meskipun demikian, status Gunung Anak Krakatau tetap di Level III atau Siaga sesuai evaluasi hingga Jumat pukul 06.00 WIB. Lana menjelaskan bahwa sekalipun episode erupsi berlanjut telah berakhir, sebanyak 14 kali erupsi Strombolian tercatat setelahnya.
“Erupsi Strombolian merupakan salah satu karakteristik aktivitas Gunung Anak Krakatau. Munculnya kembali erupsi Strombolian menunjukkan bahwa episode erupsi menerus telah berakhir. Namun, aktivitas vulkanik masih berlangsung, sehingga masyarakat tetap perlu waspada dan mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan,” ujar Lana.
Erupsi Strombolian sendiri melibatkan letupan-letupan berkala akibat pelepasan gas dari magma, yang dapat mengeluarkan material pijar dan abu vulkanik. Pemantauan juga menunjukkan aktivitas gempa permukaan menurun, tetapi gempa vulkanik mengalami peningkatan, menunjukkan pergerakan magma dari bagian lebih dalam masih terjadi.
Badan Geologi memastikan pemantauan tetap berlanjut meski beberapa alat terdampak erupsi. Pengamatannya dilakukan melalui stasiun yang masih berfungsi, pengamatan visual, dan parameter lainnya. “Keselamatan personel menjadi prioritas. Petugas baru akan diterjunkan setelah kondisi memungkinkan dan seluruh prosedur keselamatan terpenuhi,” tegas Lana.
Dengan status Siaga, masyarakat dan pihak lainnya diminta tidak mendekati radius tiga kilometer dari kawah. Potensi bahaya berupa lontaran material pijar, abu vulkanik, serta kemungkinan awan panas perlu diwaspadai. Badan Geologi terus mendorong masyarakat untuk tetap tenang dan memperhatikan informasi resmi dari pemerintah.
Diolah dari laporan Antara – Top News.


You must be logged in to post a comment Login