PERISTIWA
Kemarau Ekstrem di Kalimantan, Debit 3 Sungai Besar Menyusut
Kemarau ekstrem di Kalimantan menyebabkan Sungai Mahakam, Barito, dan Kapuas mengering hingga menyerupai hamparan gurun pasir.
PANTAU24.com – Musim kemarau panjang yang terjadi di Kalimantan pada Agustus hingga September 2026 telah menyebabkan penyusutan debit air pada sejumlah sungai utama di kawasan tersebut. Penyusutan ini begitu drastis sehingga hamparan pasir dan endapan sedimen tampak di sepanjang aliran Sungai Mahakam, Barito, dan Kapuas, yang biasanya tertutup air.
Sungai Mahakam di Kalimantan Timur menjadi salah satu sungai yang mengalami penurunan debit air signifikan. Surutnya air membuat hamparan pasir dan endapan sedimen muncul di sepanjang aliran sungai. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan mengingat biasanya wilayah tersebut penuh dengan air.
Di Kalimantan Tengah, Sungai Barito mengalami kondisi serupa. Menurut laporan yang diterima dari wilayah Muara Teweh, ketinggian air sungai dilaporkan hanya sekitar 0,6 meter. Padahal, dalam kondisi normal, ketinggian air Sungai Barito di wilayah tersebut bisa mencapai antara 5 hingga 11,5 meter. Penurunan ini tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga menandakan dampak nyata dari kemarau ekstrem dan berkurangnya curah hujan.
Sementara itu, kondisi serupa juga terjadi di Sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Fenomena mengeringnya sungai ini dipengaruhi oleh musim kemarau panjang dan fenomena El Nino. Jalur sungai yang biasanya dipenuhi dengan air dan dapat dilalui kapal tongkang kini beralih menjadi daratan mirip dengan hamparan padang pasir.
Dampak dari mengeringnya tiga sungai besar ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kemarau terhadap sumber daya air di Pulau Kalimantan, menimbulkan kekhawatiran akan ketersediaan air dan dampak lingkungannya.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.


You must be logged in to post a comment Login