Connect with us

PERISTIWA

Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Usai Kecelakaan di Bekasi

Masinis KA 4B Argo Bromo Anggrek ditetapkan tersangka setelah kecelakaan di Bekasi Timur, 16 penumpang tewas.

Published

on

PANTAU24.com – Masinis Kereta Api 4B Argo Bromo Anggrek, dengan inisial AN, resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam peristiwa kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, pada 27 April 2026. Kecelakaan tersebut, yang melibatkan tabrakan dengan KA 5568A Commuter Line, menyebabkan 16 penumpang meninggal dunia.

Menurut informasi dari kepolisian, salah satu alasan penetapan tersangka adalah keraguan AN dalam mengambil keputusan pengereman. “Seharusnya bisa dilakukan lebih jauh jaraknya dari tindakan yang dilakukan pada saat pengereman pertama pada saat terjadinya kecelakaan,” ujar AKBP Dewa Anom Danujaya, Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, dalam konferensi pers pada Selasa (29/9/2026).

Berdasarkan tinjauan ahli perkeretaapian yang menggunakan teori Minden, pengereman darurat masih dapat dilakukan dari jarak 600 meter, yang seharusnya memungkinkan kereta berhenti sebelum mencapai tempat kejadian. AKP Muhammad Rizka, Kanit 1 Subdit 1 Kamneg, menambahkan bahwa kereta seharusnya bisa berhenti pada jarak tersebut, dan masinis juga diharapkan mengambil keputusan untuk berhenti ketika mulai merasa ragu. “Harusnya kapabel 600 itu berhenti total. Dia juga bisa mengambil keputusan kalau ragu-ragu, atau berhenti, dia harus mengambil keputusan berhenti dari awal. 263 meter baru dia berhenti,” tambahnya.

Namun, laporan investigasi KNKT menunjukkan bahwa situasi yang dihadapi masinis tidak sepenuhnya sederhana, terutama terkait dengan jarak pandang dan sinyal di jalur. Sebelum kecelakaan, kereta melewati sinyal keluar J12 yang mengizinkan perjalanan, namun sinyal berikutnya, UB104 dan B104, menunjukkan aspek yang mengharuskan berhenti. Masalah visibilitas pada malam hari mengakibatkan kesulitan dalam membedakan sinyal UB104 dengan cahaya sekitar.

Faktor lain yang mempengaruhi kejadian tersebut adalah pemahaman masinis dan asisten masinis terhadap sinyal kereta. Menyaksikan sinyal hijau pada J12, mereka mengira sinyal berikutnya masih akan mengizinkan perjalanan. Pemahaman ini terbentuk dari pengalaman sebagai Awak Sarana Perkeretaapian. Namun, posisi sinyal blok yang kurang tampak dan jarak pandang yang terbatas memperburuk situasi hingga terjadi kecelakaan fatal.

Fakta menarik dan bermanfaat

Diolah dari laporan Liputan 6.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.