PERISTIWA
Ekonomi Irak Tertekan Akibat Konflik AS-Iran, Rugi Rp 1.068 T
Ekonomi Irak terpukul berat akibat konflik AS-Iran, dengan kerugian mencapai Rp 1.068 triliun karena terganggunya ekspor minyak.
PANTAU24.com – Ekonomi Irak kini berada di ujung tanduk akibat terjebak dalam konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Sejak akhir Februari, aliran perdagangan bebas melalui Selat Hormuz terhenti, memukul negara yang sangat bergantung pada impor tersebut.
Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, menggambarkan tantangan ekonomi luar biasa yang dihadapi negaranya. “Irak telah kehilangan pendapatan minyak sekitar US$ 60 miliar (Rp 1.068 triliun) karena tidak dapat mengekspor sekitar 90% minyaknya melalui rute Teluk,” ungkapnya mengutip Al Jazeera pada Sabtu (26/09/2026).
Pendapatan dari minyak yang menyumbang lebih dari 90% anggaran Irak terhambat, menyebabkan kenaikan biaya transportasi dan penurunan volume impor. Menurut Alaa-Eddin Sulaibi, pemilik supermarket di Baghdad, porsi barang impor menurun dari 90% menjadi 70%, sementara harga naik antara 25% hingga 30%.
Krisis ini juga menekan nilai tukar dinar Irak terhadap dolar AS di pasar paralel, mencapai 1.600 dinar per dolar dari kurs resmi 1.300 dinar. Pemerintah Irak menghadapi pengetatan pasokan dolar setelah pemerintah AS menangguhkan pengiriman uang tunai dari Irak pada April lalu. Meski pengiriman dilanjutkan sebagian pada bulan Juli, AS menuduh bank swasta Irak terlibat penyelundupan dolar ke Iran.
Bank Sentral Irak (CBI) membantah isu kekurangan dolar, namun Penasihat Keuangan PM Irak, Mudher Mohammed Salih, menyatakan cadangan devisa CBI menurun dari US$ 106 miliar (Rp 1.886,8 triliun) sebelum perang menjadi US$ 80 miliar (Rp 1.424 triliun) pada akhir Agustus.
Menurut Ziad al-Hashimi dari Anglia Ruskin University, krisis ini menyoroti kelemahan struktural ekonomi Irak yang bergantung pada minyak. “Krisis ini mengungkap ketidakseimbangan dalam struktur ekonomi Irak yang tidak memiliki perlindungan untuk menghadapi gejolak,” ujarnya. Alang-alang dengan langkah jangka pendek seperti pinjaman, tampaknya hanya solusi sementara bagi Irak.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.


You must be logged in to post a comment Login