Connect with us

PERISTIWA

Perguruan Tinggi Diminta Kurangi Aktivitas akibat Abu Anak Krakatau

Kemendiktisaintek imbau universitas kurangi aktivitas luar dampak abu Anak Krakatau, beralih ke pembelajaran daring.

Published

on

PANTAU24.com – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) telah mengeluarkan imbauan kepada perguruan tinggi di wilayah terdampak abu erupsi Gunung Anak Krakatau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Proses pembelajaran dan kegiatan akademik diharapkan dapat dialihkan ke sistem daring atau hybrid untuk menghindari paparan abu vulkanik yang dapat membahayakan kesehatan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan bahwa Kemendiktisaintek terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta pemerintah daerah. Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan infrastruktur di kampus-kampus terdampak.

“Hingga saat ini, atas dasar koordinasi kami dengan terutama Kepala LL Dikti di wilayah terdampak, tidak terdapat korban yang menimpa warga kampus atau termasuk juga infrastruktur,” ujar Fauzan dalam konferensi pers daring. Imbauan tersebut disampaikan bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Kemendiktisaintek juga meminta perguruan tinggi untuk mengaktifkan posko siaga di kampus. “Kami juga mengimbau kepada seluruh pimpinan perguruan tinggi untuk mengaktifkan posko siaga di lingkungan masing-masing dan selalu berkoordinasi dengan kepala daerah setempat,” ujar Fauzan. Posko siaga ini diharapkan menjadi pusat informasi dan bantuan yang terkait dengan situasi erupsi.

Selain itu, perguruan tinggi diminta memobilisasi bantuan dan mengerahkan pakar dari berbagai bidang untuk membantu memantau perkembangan erupsi. Fauzan menyatakan, “Kami mengimbau kepada pimpinan perguruan tinggi untuk memobilisasi para pakar, baik pakar kesehatan, teknik, lingkungan, kebencanaan, psikologi, dan lain-lain untuk selalu terlibat dan memantau perkembangan erupsi ini.”

Fakta menarik dan bermanfaat

Diolah dari laporan Liputan 6.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.