PERISTIWA
Kerusuhan Pejompongan: Pedagang Tutup Toko karena Takut
Kerusuhan di Pejompongan membuat pedagang terpaksa menutup toko untuk menghindari ancaman. Kondisi sempat mencekam.
PANTAU24.com – Pada Kamis, 27 Agustus 2026, suasana mencekam melanda warga dan pedagang di Jalan Pejompongan, Jakarta Pusat, akibat kerusuhan yang terjadi setelah aksi penyampaian pendapat di Gedung DPR/MPR/DPD RI. Bambang Setiyawan, seorang pedagang kaca dan cermin berusia 58 tahun, menjadi korban pengeroyokan sekelompok orang tak dikenal saat berusaha menutup tokonya.
Deretan kios di Jalan Pejompongan sebenarnya sudah banyak yang tutup menjelang malam. Namun, toko milik Bambang tetap buka hingga akhirnya dia diserang. “Katanya dia ingin nutup tokonya. Pas kejadian itu saya sempat lihat walau agak jauh. Soalnya saya langsung masuk ke dalam,” ujar seorang pedagang aksesori motor yang memilih tidak disebutkan namanya.
Menurut narasumber tersebut, aksi di Gedung DPR/MPR/DPD RI awalnya berjalan damai hingga sore hari. Namun, suasana berubah menjadi tegang saat malam tiba ketika sekelompok pemuda, yang diduga perusuh, mulai mendatangi lokasi.
Kekhawatiran itu terbukti tepat, karena kerusuhan pecah di Jalan Pejompongan dan suasana mencekam berlangsung hingga larut malam. Bahkan, Jumat pagi, sejumlah orang masih berada di sekitar lokasi, membuat pedagang tersebut memilih untuk tetap menutup tokonya.
Toko-toko baru mulai beroperasi kembali pada Sabtu setelah aparat keamanan, termasuk TNI, berjaga di lokasi. “Itu dijaga TNI seharian. Jadi ya sudah buka. Tapi ya masih ada takut juga,” ucap pedagang tersebut. Kondisi dikabarkan sudah kembali normal, tanpa kehadiran penjagaan dari aparat keamanan.
Diolah dari laporan Liputan 6.


You must be logged in to post a comment Login