Connect with us

PERISTIWA

G20 TMM Tolak Pangan Sebagai Alat Tekanan Geopolitik

Menteri Perdagangan Budi Santoso umumkan hasil G20 TMM, menolak pangan sebagai tekanan geopolitik.

Published

on

PANTAU24.com – Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengumumkan hasil pertemuan G20 Trade Ministers’ Meeting (TMM) di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, pada 30 September hingga 1 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menandai penolakan para Menteri Perdagangan G20 terhadap upaya menjadikan pangan sebagai instrumen tekanan geopolitik.

Budi Santoso dalam keterangannya di Jakarta menyatakan, “Para Menteri Perdagangan G20 menolak upaya menjadikan pangan sebagai instrumen tekanan geopolitik. Pangan berhubungan dengan kelangsungan hidup dan upaya penekanan melalui pangan tidak dapat dibenarkan.”

Dalam agenda tersebut, disorot pula isu kelebihan kapasitas, praktik kerja paksa, dan aturan tarif Most Favored Nation (MFN) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Budi menekankan pentingnya kerja sama internasional dengan menghormati perbedaan kebijakan ekonomi tiap negara. Khusus soal kelebihan kapasitas, Budi mengingatkan perlunya analisis berbasis bukti, bukan sekadar label politik.

“Excess capacity harus mengacu pada temuan yang analitis dan berbasis bukti,” kata Budi. Sedangkan mengenai prinsip MFN, Budi menggarisbawahi pentingnya mempertahankan sikap nondiskriminatif dalam perdagangan internasional.

Berkaitan dengan kerja paksa, Indonesia menunjukkan komitmennya terhadap penghapusan praktik tersebut. Hal ini tercermin dari ratifikasi sembilan dari sepuluh Konvensi Fundamental Organisasi Buruh Internasional (ILO), serta peraturan perdagangan Indonesia yang melarang impor barang hasil produksi kerja paksa.

Fakta menarik dan bermanfaat

Diolah dari laporan Antara – Top News.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.