Connect with us

Bolmut

Ibunda Stevi: ‘Saya Hanya Butuh Penjelasan Terkait Kematian Anak Saya’

Din Tatoya (63) Ibu dari Stevi Hinur tak bisa menahan air matanya saat menjelaskan pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) dihadapan wakil rakyat Kabupaten Bolmut, Jumat 1 September 2023.

Published

on

BOLMUT, PANTAU24.COM Din Tatoya (63) Ibu dari Stevi Hinur tak bisa menahan air matanya saat menjelaskan pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) dihadapan wakil rakyat Kabupaten Bolmut, Jumat 1 September 2023.

Ia datang digedung DPRD Bolmut bersama keluarganya dalam rangka mencari fakta-fakta terkait kematian anaknya beberapa waktu lalu setelah dilakukan operasi di RSUD Bolmut.

Datang dengan mobil pick up sekitar pukul 15.00 WITA, dengan memakai kain putih dikepala, tampak raut muka sedih terlihat Dari Din Tatoya saat memasuki ruang Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar oleh komisi 1 DPRD Bolmut.

Saat diruangan RDP, Din Tatoya menjelaskan bagaimana kondisi anaknya saat itu. Din bahkan sambil menangis mengingat kembali kejadian saat anaknya akan melahirkan.

Bagi Din, Stevi adalah anak pendiam, ia merupakan anak terakhir dikeluarganya. Din sendiri memiliki lima anak.

Fakta menarik dan bermanfaat

Selama ia mendidik Stevi, dimatanya Stevi sering tidak mengeluh. Bahkan sampai ia menyekolahkan anaknya dibangku kuliah, ia pernah mengirim uang kepada Stevi Rp20 ribu.

“Saat itu Stevi tidak mengeluh,”ujar Din warga Sangkub 4 ini.

Din mengungkapan Stevi anak jujur. Ia bekerja sebagai guru agama islam. Selain itu, pada bulan ini merupakan ulang tahunnya.

“Pernah suatu saat, saya ingin membelikan kipas angin kepada Stevi. Tapi saat itu Stevi menolak. Menurutnya lebih baik uang dibelikan kipas disimpan untuk bayar SPP kuliahnya,”ujar Din kepada pantau24.com, sambil mengusap air matanya.

Lahir pada 1997, Stevi sering berprestasi di sekolahnya. Ia sering mendapatkan juara satu dari SD hingga SMK.

“Dan kalau Stevi mendapat juara satu, saya sering dibuat bangga walau penjual kue sering tampil didepan saat anak saya juara satu di sekolah,”katanya sambil bercerita sudah 16 hari ia kehilangan Stevi.

Baca Pula:  Kesal dengan Sikap Direktur RSUD Bolmut, Dokter ini Mengadu ke Bupati dan Sekda

Din menuturkan percakapan terakhir dirinya dengan Stevi. Saat itu kata Stevi dia ingin membangunkan orang tuanya.

Karena saat itu kata Stevi dirinya sudah ada tanda-tanda ingin melahirkan.

“Stevi sebenarnya ingin membangunkan mama dan papa saat tidur. Tapi melihat mama dan papa tidur karena lelah bekerja keinginan tersebut tidak terjadi,”kata Ibunda Stevi.

Walau demikian ia mengaku ikhlas kehilangan Stevi. Dirinya hanya meminta penjelasan terkait kematian anaknya dari Puskesmas Sangkub dan RSUD Bolmut.

“Hal ini agar tidak ada lagi kejadian seperti ini terjadi. Tak ada lagi Stevi-Stevi selanjutnya,”ujar Din sambil memegang foto wisuda anaknya saat di IAIN Gorontalo.

Selain itu, dirinya berharap baik puskesmas dan RSUD Bolmut agar dapat memperbaiki pelayanan terhadap masyarakat.

Sebelumnya Stevi sendiri meninggal dunia di RS Aloei Saboe Gorontalo, setelah belum lama dirujuk dari RSUD Bolmut.

Penjelasan Puskesmas Sangkub dan RSUD Bolmut

dr Prilly, salah satu dokter puskesmas Sangkub memberikan penjelasan di RDP.

Ia menjelaskan pada 14 Agustus 2023 dirinya merekomendasikan pasien untuk dirujuk ke RSUD Bolmut.

Dengan beberapa alasan, diantaranya demam yang dialami pasien Stevi. Selain itu Stevi memiliki postur pendek dan pinggul kecil.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh direktur RSUD Bolmut Firlia Mokoagow. Dirut juga menambahkan jika penanganan pihak RSUD Bolmut sesuai dengan prosedur yang ada.

Didampingi dokter dan tim RSUD Bolmut, pihak RSUD menyampaikan jika sesampai dari puskesmas Sangkub, Stevi pembukaan kehamilannya sudah lengkap dan air ketubannya sudah kering.

Sementara itu Sekda Bolmut Jusnan Mokoginta juga memberikan penjelasan bagaimana penanganan medis kepada pasien.

Baca Pula:  Mulai Selasa Besok, RSUD Bolmut Tutup Pelayanan

Dihadapan anggota DPRD Bolmut dan keluarga Stevi, Jusnan menjelaskan prosedur penanganan petugas kesehatan.

Ia pun menjamin dan menegaskan jika ada petugas-petugas kesehatan yang melayani pasien dengan tidak ramah catat dan sampaikan kepadanya.

Pihak DPRD Bolmut-pun bakal memberikan rekomendasi kepada pemda Bolmut terkait pelayanan kesehatan.

Telah Ada Tim Pokja Mencegah Kematian Ibu

Sebelumnya pada rapat pembentukan tim pokja pencegahan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Neonatal (AKN) yang bertempat di Ruang Rapat Bapelitbang Kabupaten Bolmut beberapa waktu lalu.

Wakil Bupati Amin Lasena mengatakan untuk percepatan penurunan Angka Kematian Ibu Hamil, melahirkan dan nifas serta angka kematian bayi, perlu adanya partisipasi dan peran serta Pemerintah dan masyarakat dalam memberikan solusi pencegahan.

“Pembentukan Tim Pokja merupakan wujud komitmen Pemerintah Daerah dalam upaya penanggulanga dan pencegahan angka kematian ibu dan bayi,” jelasnya.

Dirinya mengimbau agar dalam pendataan setiap ibu hamil diperiksa kondisi kehamilannya untuk mengetahui ada tidaknya faktor resiko terjadinya pendarahan atau preeklampsia.

“Untuk menentukan perlu tidaknya seorang ibu hamil memperoleh bentuk  penanganan lebih lanjut,” ungkapnya.

Diketahui, preeklampsia dan pendarahan merupakan penyebab utama kematian ibu melahirkan.

Sehingga sejak awal harus fokus untuk mengintervensi kedua penyebab tersebut.

“Karenanya, bidan, dokter, kader kesehatan dan semua pihak terkait dengan penanganan ibu melahirkan harus sama-sama cepat dalam melakukan tindakan maupun sosialisasi. Kita bantu warga yang kurang mampu, jangan sampai pelayanan tidak maksimal,” tegasnya.

Penyebab langsung kematian bayi adalah Berat Badan Rendah (BBLR) dan kekurangan oksigen.

Sehingga pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan sangatlah penting. Mengapa harus mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan?

Agar Ibu hamil dan bayi dapat secara cepat dan tepat mendapat pelayanan persalinan sesuai standar.