Perkembangan Varian Omicron Menjangkiti Dunia

  • Share
Omicron 3
Ilustrasi, (Foto: Pixabay).

KOTAMOBAGU, PANTAU24.COM – Varian baru Omicron, juga dikenal sebagai garis keturunan B.1.1.529, adalah sebuah varian SARS-CoV-2, sebuah koronavirus yang menyebabkan Covid-19. WHO menyatakannya sebagai varian yang diwaspadai dan menamakannya dari kata Yunani Omicron.

Varian Omicron yang sangat bermutasi telah berada di Eropa beberapa hari lebih awal dari yang diketahui sebelumnya, kata pejabat kesehatan dikutip dari The New York Times, Rabu (1/12/2021).

Kini jumlah negara tempat virus itu ditemukan meningkat menjadi setidaknya 20 negara dan menimbulkan pertanyaan tentang apakah pandemi akan kembali melonjak.

The Netherlands’ National Institute for Public Health and the Environment (Institut Nasional Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda) mengatakan bahwa sampel yang diambil pada 19 November dan 23 November – sebelum pengumuman keberadaan Omicron pada 24 November – dinyatakan positif memiliki varian tersebut. Pejabat kesehatan telah memberi tahu dua orang yang terinfeksi dan melakukan pelacakan kontak untuk mencoba membatasi penyebaran virus varian baru tersebut.

Menurut para ilmuwan, dari bukti sejauh ini bahwa mutasi pada varian Omicron menunjukkan bahwa varian ini lebih menular daripada bentuk varian sebelumnya.

Fakta menarik dan bermanfaat
IlustrasI, (Foto: Pixabay).

Pada hari Selasa, Pemerintah Amerika Serikat sedang mencari cara untuk memperketat kedatangan orang yang terbang ke Amerika Serikat, termasuk apakah akan mewajibkan semua penumpang memberikan hasil negatif dari tes yang diambil dalam waktu 24 jam setelah keberangkatan.

Sehari setelah memperingatkan bahwa risiko dari Omicron “sangat tinggi,” Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Selasa mengatakan bahwa orang yang tidak divaksinasi yang berusia di atas 60 tahun, sakit atau memiliki risiko kesehatan “harus disarankan untuk menunda perjalanan.”

Di Yunani, perdana menteri mengumumkan bahwa vaksinasi Covid-19 akan diwajibkan untuk orang berusia 60 tahun ke atas, dan akan mendenda warga negaranya yang tidak melakukan vaksinasi tahap pertama pada 16 Januari mendatang.

Di Afrika Selatan, tempat varian Omicron pertama kali ditemukan, kasus virus corona baru yang dilaporkan telah melejit dari sekitar 300 kasus per hari pada pertengahan November menjadi sekitar 3.000 kasus per hari. Ini merupakan peningkatan tercepat di dunia.

Pada dua penerbangan dari Afrika Selatan ke Belanda pada hari Jumat pekan lalu, tepat ketika serangkaian larangan perjalanan dari Afrika selatan diumumkan, 61 penumpang dinyatakan positif terpapar virus, setidaknya 14 di antaranya menderita Omicron.

Selain pertanyaan tentang penularan Omicron, para ilmuwan hingga kini masih belum memiliki jawaban lain seperti apakah vaksin Covid-19 kurang efektif untuk melawannya? bagaimana perawatan pasien Omicron? Apakah Omicron menyebabkan penyakit yang lebih serius?

Ilustrasi, (Foto: Pixabay).

Bukti awal dari Afrika Selatan menunjukkan bahwa Omicron, memiliki mutasi lebih banyak dari varian sebelumnya, menginfeksi orang yang sudah pernah terpapar Covid-19. Tetapi bukti ini memerlukan pengujian yang lebih ketat.

“Ini akan memakan waktu dua hingga empat minggu, mungkin sedikit lebih cepat sebelum jawaban awal tersedia”, ujar pakar penyakit menular AS, Dr. Anthony S. Fauci, saat pengarahan di Gedung Putih.

Hingga Selasa malam, belum ada kasus Omicron yang dilaporkan di Amerika Serikat, meskipun variannya telah terdeteksi di Kanada. Para pejabat AS mengatakan bahwa ini hanya masalah waktu, dan tujuan utama memperlambat penyebarannya.

Media Brasil melaporkan bahwa varian itu telah muncul di Brasil, yang berarti sudah ada di setiap benua kecuali Antartika.

Baca Pula:  Polres Kotamobagu Terus Giatkan Operasi Yustisi, Imbau Pelaku Usaha Taat Prokes

Direktur The U.S. Centers for Disease Control and Prevention (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS) Dr. Rochelle P. Wollensky, mengatakan lembaga mereka mengurutkan genom dari 80.000 sampel virus corona setiap minggu – sekitar sepertujuh dari semua tes PCR di negara itu – dan akan meningkatkan pemeriksaan pada penumpang internasional yang tiba.

Varian ini memiliki jumlah mutasi yang sangat besar yang tidak pernah terlihat dalam kombinasi sebelumnya, sekitar 50 mutasi, termasuk lebih dari 30 mutasi pada protein “spike” yang digunakannya untuk menempel pada sel inang. Mutasi tingkat tinggi itu yang menyebabkan kekhawatiran tentang Omicron.

Produsen vaksin kini tengah mencari cara merumuskan ulang formula untuk mengatasi Omicron. Ini adalah langkah yang tidak dilakukan untuk melawan varian Delta.

Dan Regeneron, pembuat pengobatan antibodi monoklonal yang efektif dan disuntikkan untuk Covid, mengatakan pada hari Selasa bahwa terapinya mungkin tidak bekerja dengan baik terhadap Omicron.

Panel penasihat Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS pada hari Selasa merekomendasikan persetujuan obat oral untuk mengurangi keparahan Covid, yang diproduksi oleh Merck, dan akan segera mempertimbangkan juga produksi Pfizer.

Saat gelombang pandemi sebelumnya, saat kasus pertama virus atau varian tertentu terdeteksi, ternyata jumlah yang terinfeksi sudah jauh lebih banyak dan sudah menyebar luas dari yang diketahui.

Pasokan vaksin dunia ditujukan terutama ke negara-negara kaya. Di negara-negara kaya tersebut banyak orang telah menerima tiga kali suntikan vaksin, sementara sebagian besar orang di Afrika bahkan baru satu kali menerima suntikan vaksin Covid-19. Selama banyak orang tidak divaksinasi, pandemi akan terus berlanjut dan varian baru akan muncul.

“Keadilan vaksin bukanlah amal; itu demi kepentingan terbaik setiap negara. Waktunya telah tiba bagi semua negara untuk menyepakati pendekatan bersama yang mengikat terhadap ancaman bersama yang tidak dapat kita kendalikan atau cegah sepenuhnya.” kata Direktur WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Dosis vaksin sebenarnya semakin banyak, tetapi negara-negara Afrika masih terkendala dalam distribusi dan soal keraguan tentang vaksin. Afrika Selatan baru-baru ini menolak pengiriman vaksin karena tidak yakin apakah bisa menggunakan dosis tepat waktu.

Dari Afrika Selatan
Varian Omicron pertama kali ditemukan di Botswana pada 11 November dan beberapa hari kemudian di negara tetangga Afrika Selatan, di mana genomnya diurutkan oleh para ilmuwan yang mengumumkan keberadaannya dua minggu kemudian.

Para peneliti di Afrika Selatan telah menemukannya dalam sampel sejak 9 November, dan para ahli mengatakan kemungkinan pengujian lebih lanjut dari sampel lama akan menunjukkan bahwa itu menyebar lebih awal.

Di Eropa, jumlah kasus yang dikonfirmasi sejauh ini kecil, di bawah 100, tetapi para pejabat bersiap untuk temuan kasus yang lebih banyak lagi.

“Apakah ada kemungkinan penularan komunitas?. Saya pikir kita harus realistis, kemungkinannya ada, seperti yang kita lihat di negara-negara Eropa lainnya. Kami memperkirakan kasus akan meningkat karena kami sekarang secara aktif mencari kasus,” ujar Sekretaris Kesehatan Inggris, Sajid Javid pada sebuah konferensi pers.

Nampaknya ancaman gelombang baru pandemi akan memaksa memaksa pemerintah di banyak negara secara drastis mengurangi rencana untuk tetap buka selama liburan.

Negara-negara Eropa melaporkan lebih dari dua juta kasus virus corona baru setiap minggu, lebih dari setengah total kasus di dunia, meskipun dengan vaksinasi dan perawatan yang lebih baik dan kematian telah menurun dibandingkan dengan tahun lalu.

Baca Pula:  Update 9 April: Covid-19 Indonesia Bertambah 337 Kasus, Total 3.293 Kasus

Jerman, Belanda, Belgia, Hungaria, Republik Ceko, Slovakia, Denmark, dan Norwegia mencatatkan rekor kasus baru minggu lalu; beberapa lainnya mencapai angka tertinggi baru pada awal November.

Pemerintah di Amerika Serikat, Eropa dan di tempat lain telah melarang masuknya orang – biasanya dengan pengecualian penduduk mereka sendiri – yang baru-baru ini berada di Afrika Selatan dan beberapa negara tetangga.

Namun pengalaman dari dua penerbangan yang tiba di Amsterdam pada Jumat malam dari Afrika Selatan menunjukkan betapa terlambatnya tindakan tersebut.

Ilustrasi, (Foto: Pixabay).

Terdeteksi di Indonesia

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan temuan kasus pertama COVID-19 varian omicron di Indonesia pada Kamis (16/12).

Sebagaimana yang dilansir dari sehatnegeriku.com, kasus pertama omicron ini terdeteksi pada seorang petugas kebersihan berinisial N yang bekerja di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

“Kementerian Kesehatan telah mendeteksi seorang pasien terkonfirmasi Omicron pada tanggal 15 Desember, data-datanya sudah kita konfirmasikan ke GISAID dan telah dikonfirmasi kembali dari GISAID bahwa memang data ini data sequencing Omicron,” kata Menkes dalam keterangan pers perkembangan pandemi COVID-19.

Menkes merinci para petugas kebersihan Wisma Atlet diambil sampel rutin pada 8 Desember 2021. Hasil pemeriksaan keluar tanggal 10 Desember 2021 didapati 3 orang terkonfirmasi positif COVID-19.

Ketiga sampel selanjutnya dikirim ke Balitbangkes untuk dilakukan Whole Genome Sequencing (WGS). Hasil pemeriksaan sampel keluar tanggal 15 Desember dan didapati 1 dari 3 sampel terkonfirmasi positif varian Omicron.

“Ada 3 petugas kebersihan di RSDC Wisma Atlet yang positif PCR-nya, tapi yang terkonfirmasi positif Omicron adalah satu orang,” terang Menkes.

Seluruhnya kini telah menjalani karantina di Wisma Altet. Ketiga dalam kondiri sehat, tanpa ada gejala, tanpa batuk, dan tanpa demam. Dari hasil pemeriksaan PCR juga hasilnya telah negatif.

Selain temuan kasus konfirmasi varian Omicron, Kementerian Kesehatan juga mengidentifikasi adanya 5 kasus probable Omicron. Kelimanya telah dikarantina dan sudah dilakukan pemeriksaan khusus yang sudah dikirimkan Balitbangkes. Hasilnya akan diketahui 3 hari mendatang untuk melihat apakah sampel tersebut positif omicron atau bukan.

“Dengan pemeriksaan khusus SGTF, kita mendeteksi 5 kasus probable omicron 2 kasus warga Indonesia yang baru balik dari Inggris dan AS, 3 lainnya WNA dari Tiongkok yang ke Manado yg sekarang dikarantina di Manado,” tutur Menkes.

Menkes mengatakan bahwa penyebaran Omicron terbukti sangat cepat. Di Inggris misalnya dari 10 kasus/hari saat ini sudah mencapai 70.000 kasus/Hari. Jauh lebih tunggi dari puncak kasus di Indonesia pada bulan Juli di angka 50.000 kasus/hari.

Terkait dengan temuan ini, Menkes Budi mengimbau masyarakat untuk tidak perlu panik dan tetap tenang. Yang terpenting segera melakukan vaksinasi COVID-19 terutama untuk kelompok rentan dan lansia serta tidak perlu bepergian ke luar negeri jika tidak mendesak, serta terus tegakkan protokol kesehatan 5M, dan memperkuat 3T.

“Kedatangan varian baru dari luar negeri yang kita identifikasi di karantina, menunjukkan bahwa sistem pertahanan kita atas kedatangan varian baru cukup baik, perlu kita perkuat. Jadi wajar kalau harus stay 10 hari di karantina. Tujuannya bukan untuk mempersulit orang yang datang, tapi melindungi seluruh masyarakat Indonesia” tutup Menkes.

  • Share

Leave a Reply

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com