Connect with us

PERISTIWA

Produk Petrokimia China Membanjiri Indonesia, Industri Lokal Bersiap

Produk petrokimia China membanjiri pasar Indonesia, memicu persaingan ketat bagi industri lokal yang mencari langkah antisipasi.

Published

on

PANTAU24.com – Pasar petrokimia di Indonesia kini mengalami persaingan yang semakin ketat akibat gempuran produk impor China yang membanjiri negeri. Sebagai pasar konsumen terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menjadi incaran utama produk-produk petrokimia dari China. Suryandi, Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, menjelaskan bahwa produk-produk ini masuk ke Indonesia karena kondisi overcapacity di sektor industri petrokimia China.

Suryandi menjelaskan bahwa kelebihan kapasitas ini tidak dibarengi dengan permintaan yang kuat di dalam negeri China, sehingga produk-produk tersebut dilempar ke Asia, termasuk Indonesia. “Melambatnya pertumbuhan ekonomi China pasca-pandemi COVID-19, yang kini hanya 5-6%, membuat permintaan dalam negeri menurun,” ujar Suryandi dalam diskusi media di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Produk petrokimia dari China memiliki keunggulan harga berkat dukungan pemerintah serta biaya bahan baku yang lebih murah. Teknologi pengolahan yang tidak tergantung sepenuhnya pada nafta juga membuat produk-produk ini sangat kompetitif. “Produk dari China itu murah karena ada subsidi dan bahan bakunya murah,” lanjut Suryandi.

Menghadapi tantangan ini, Chandra Asri meluncurkan tiga langkah strategis untuk memperkuat ketahanan industri domestik. Pertama, meningkatkan keandalan operasi untuk memastikan keberlanjutan produksi dan pasokan bahan baku. Kedua, diversifikasi ke sektor lain di luar petrokimia. Ketiga, percepatan pembangunan pabrik Chlor-Alkali/Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon untuk mendukung industri hilir.

Suryandi juga menyoroti masih tingginya tingkat impor produk petrokimia Indonesia, yang mencapai 40-50% untuk produk tertentu. Dukungan yang berkesinambungan dianggap penting untuk meningkatkan kemandirian industri petrokimia nasional. “Chandra Asri dibangun agar kita mandiri dan bisa bersaing dengan negara ASEAN lain,” tegas Suryandi.

Fakta menarik dan bermanfaat

Diolah dari laporan Detik – Finance.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.