Connect with us

PERISTIWA

Kerusuhan Besar Terjadi di Prancis, Menyusul Demonstrasi Besar-besaran

Kerusuhan besar terjadi di Prancis setelah demo biaya hidup meluas menjadi aksi kekerasan dan penjarahan.

Published

on

PANTAU24.com – Kerusuhan melanda berbagai kota di Prancis menyusul demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan penurunan layanan publik yang awalnya berjalan damai. Kerusuhan ini berujung pada aksi kekerasan, pembakaran, dan penjarahan, menciptakan kekacauan terparah dalam beberapa dekade terakhir.

Ratusan ribu orang ikut serta dalam protes di berbagai kota di Prancis. Awalnya, mereka berdemo secara damai, namun kekerasan mulai meletus ketika beberapa kelompok massa menargetkan gedung-gedung publik, menjarah butik mewah dan supermarket, serta menyerang kendaraan dan petugas polisi. Aksi ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kondisi sekolah dan kekurangan guru di kawasan pinggiran, sebelum berkembang menjadi gerakan menentang ketimpangan sosial dan peningkatan biaya hidup.

Di Limoges, balai kota dibakar oleh para demonstran, sementara di Marseille, massa berpakaian hitam merusak bangunan balai kota dengan grafiti anarkis. Menurut pihak berwenang, sekitar 550.000 orang mengikuti aksi tersebut di seluruh negeri.

Menurut laporan AFP, toko-toko, mulai dari gerai mewah hingga toko roti, dibobol oleh penjarah. Di Paris, kaca depan sebuah toko produk perawatan kulit dihancurkan, dan produk-produk kecantikan dilemparkan ke arah puluhan orang yang berkumpul di luar.

Menteri Ekonomi Roland Lescure menjanjikan dukungan bagi pemilik usaha yang mengalami kerugian. “Mereka yang merusak berbagai hal harus menanggung akibatnya, memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan, serta dimintai pertanggungjawaban atas niat mereka untuk menebar kekacauan,” ujar Lescure.

Fakta menarik dan bermanfaat

Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, mengutuk kekerasan tersebut dan menegaskan sikap pemerintah yang tidak akan “diintimidasi”. Ia menuding kelompok “ultra-kiri” dan para kriminal sebagai dalang di balik kerusuhan, yang terjadi menjelang pemilihan presiden tahun depan. “Kami tidak akan membiarkan diri kami diintimidasi. Tidak ada seorang pun yang boleh memaksakan agenda politik mereka melalui kekerasan,” tegasnya dalam sebuah unggahan di platform X.

Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.