PERISTIWA
Penerapan Kebijakan Naik Kelas Otomatis di Sekolah akan Dihentikan
Mendikdasmen Abdul Mu’ti rencanakan kembalikan aturan siswa tidak otomatis naik kelas demi peningkatan mutu pendidikan mulai 2027.
PANTAU24.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti merencanakan pemberlakuan kembali kebijakan yang mengatur siswa tidak otomatis naik kelas sebagai bagian dari peningkatan mutu sumber daya manusia di Indonesia. Kebijakan ini direncanakan diterapkan mulai tahun ajaran 2027. “Terkait peningkatan mutu, kami mendapatkan masukan, supaya kebijakan tidak naik kelas diberlakukan lagi. Ini rekomendasinya Dewan Pendidikan,” ujar Abdul Mu’ti, Rabu (7/10/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, fenomena “Rumus RMS” atau Rajin Malas Sama Saja mencuat karena siswa saat ini tidak termotivasi untuk berusaha lebih keras lantaran dipastikan akan tetap naik kelas, terlepas dari performa akademik mereka. “Dan kalau ini disetujui, dan mungkin menjadi bagian dari rekomendasi konvensi ini, tentu kami akan siap melaksanakan. Sehingga mulai tahun ajaran 2027 dan seterusnya, tidak semua murid otomatis naik kelas,” jelas Abdul.
Abdul Mu’ti menekankan pentingnya menumbuhkan semangat belajar dan kesiapan berkompetisi untuk menciptakan generasi yang tangguh. “Mereka harus kita biasakan punya jiwa yang rajin belajar, kemudian siap untuk berkompetisi, dan anak-anak yang tangguh seperti yang sering disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto,” tambahnya. Amir juga menyadari perlunya masukan dari pakar dan kajian akademik lebih lanjut sebelum kebijakan ini diterapkan.
Rencana kebijakan ini mendapat tanggapan beragam dari orang tua. Uli, seorang ibu, menilai langkah ini baik selama indikator penilaiannya jelas. “Sebenarnya cukup baik, tapi kembali lagi ke cara pandang orang tuanya. Apakah cukup menerima anaknya tidak naik sekolah sebagai evaluasi atau hal memalukan,” ucap Uli. Dia juga mencatat fenomena bahwa kualitas pendidikan anak-anak saat ini memprihatinkan, dengan masih adanya siswa yang belum bisa membaca atau berhitung dengan benar.
Kebijakan serupa didukung oleh Titin, ibu satu anak, yang berpendapat bahwa kebijakan tidak naik kelas membantu menyaring siswa berdasarkan kemampuan akademiknya. “Kalau dia memang belum mumpuni ya harusnya tidak dinaikkan. Kan menaikkan anak yang ternyata belum bisa juga merusak reputasi sekolah,” jelasnya.
Diolah dari laporan Liputan 6.


You must be logged in to post a comment Login