Connect with us

PERISTIWA

IHSG Terus Melemah Usai Batas Saham Minimum Dihapus

IHSG melemah 0,97% ke level 6.181 pasca perubahan kebijakan BEI terkait penghapusan batas harga minimum saham yang berdampak signifikan.

Published

on

PANTAU24.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami pelemahan usai perubahan kebijakan dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada sesi pertama perdagangan hari ini, IHSG tercatat melemah 0,97% ke level 6.181,43. Penerapan aturan baru terkait penghapusan batas harga minimum saham turut mempengaruhi penurunan ini.

Pada paruh perdagangan mandek ini, volume perdagangan mencapai 23,38 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 6,41 triliun dan frekuensi sebanyak 1.020.488 kali. Dari total perdagangan, 496 saham mengalami pelemahan, 193 menguat, dan 102 stagnan. Indeks LQ45 juga mengalami penurunan 0,86% ke level 615.796.

Penghapusan harga saham minimum Rp 50 menjadi Rp 1 mulai diterapkan hari ini. Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, langkah ini bertujuan untuk meningkatkan volatilitas dan ruang perdagangan saham berharga rendah.

Kebijakan ini diharapkan memperluas ruang perdagangan dan meningkatkan kualitas pembentukan harga, terutama bagi saham yang selama ini stagnan di batas minimum. Namun, perubahan tersebut juga berpotensi meningkatkan volatilitas pada saham berharga rendah,” tulis riset tersebut.

Selain itu, penurunan IHSG juga dipicu oleh faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga global, arah imbal hasil US Treasury, serta pergerakan dolar AS. Riset dari Mirae Asset Sekuritas menambahkan bahwa imbal hasil obligasi 10-tahun telah mencapai 5,167%, dan ekspektasi pasar menguat terhadap kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober 2026.

Fakta menarik dan bermanfaat

Geopolitik juga memainkan peran, termasuk dinamika diplomasi AS-Iran dan kesepakatan perpanjangan gencatan perang dagang AS-China yang menyebabkan penurunan harga minyak Brent sebesar 2,02% ke level US$ 97,44 per barel. “Sentimen utama yang akan memengaruhi IHSG antara lain perkembangan kebijakan suku bunga global, arah yield US Treasury dan pergerakan dolar AS, dinamika nilai tukar rupiah, arus modal asing, perkembangan geopolitik serta perkembangan harga komoditas,” tulis M. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas.

Diolah dari laporan Detik – Finance.

⚠️ Disclaimer: Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.