PERISTIWA
Dorongan Elektrifikasi Truk untuk Pengurangan Emisi Transportasi
Inisiatif elektrifikasi truk dapat menekan emisi dan memperbaiki kualitas udara di kota besar.
PANTAU24.com – Kendaraan angkutan barang, terutama truk dan kendaraan berat, menjadi fokus penting dalam upaya mengurangi emisi sektor transportasi di Indonesia. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak kendaraan pribadi, kontribusi emisi dari truk sangat signifikan.
Berdasarkan data dari Institute for Essential Services Reform (IESR), terdapat ketimpangan besar antara jumlah unit kendaraan dengan beban polusi yang dihasilkan. Menyadari hal ini, komunitas anak muda dan aktivis lingkungan mengadakan kampanye berjudul “Ngebeats Bukan Ngebul” bertepatan dengan Hari Perhubungan Nasional. Acara tersebut berlangsung di Car Free Day Jakarta pada Minggu (27/9/2026).
Kampanye yang unik dengan format silent disco ini menyoroti pentingnya elektrifikasi kendaraan menengah dan berat. Campaign Lead Janji Jangan Ngebul, Rafaela Xaviera, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan respons terhadap polusi udara yang mengancam kota-kota besar.
“Masyarakat dan komuter di Indonesia setiap hari menghadapi risiko kesehatan akibat asap pekat kendaraan berat. Padahal, teknologi truk listrik sudah tersedia dan diadopsi dengan baik di pasar global,” ujar Rafaela.
Rafaela mendorong produsen otomotif untuk lebih serius dalam menyediakan armada ramah lingkungan di pasar domestik. Sementara itu, Koordinator Enter Nusantara, Reka Maharwati, menekankan pentingnya regulasi pemerintah yang mendukung percepatan elektrifikasi. Ia juga menyebutkan perlunya harga terjangkau dan infrastruktur pendukung yang memadai.
“Walaupun jumlah truk bukan mayoritas, kontribusi polusinya sangat membahayakan kesehatan publik. Transisi energi di sektor ini harus segera dipercepat,” kata Reka.
Masalah dekarbonisasi truk ini sejalan dengan data kualitas udara dari IQAir yang melaporkan indeks kualitas udara Jakarta berada di angka 113 (kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif) pada 26 September 2026. Hal ini menunjukkan urgensi pengurangan emisi kendaraan berat.
Kementerian Kesehatan mencatat dalam laporan lonjakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang mencapai 400 ribu kasus per minggu pada Juli-Agustus 2026. Walaupun musim kemarau turut berkontribusi, emisi kendaraan tetap menjadi faktor yang perlu diatasi.
Diolah dari laporan Media Indonesia.


You must be logged in to post a comment Login