PERISTIWA
Moldova Tetapkan Status Darurat 60 Hari Akibat Krisis Energi
Pemerintah Moldova menetapkan status darurat selama 60 hari akibat lonjakan harga bahan bakar dan krisis air, diperparah perang di Timur Tengah.
PANTAU24.com – Pemerintah Moldova resmi menetapkan status darurat selama 60 hari dalam sektor energi dan air akibat lonjakan harga bahan bakar dan bencana kekeringan parah. Status darurat ini akan berlaku mulai Sabtu mendatang, menyusul keputusan parlemen yang telah menyetujui usulan pemerintah dengan 54 suara mendukung, 20 menolak, dan 22 abstain.
Laporan dari Bangkok Post menyebut bahwa Moldova menghadapi krisis ganda dengan lonjakan harga bahan bakar global sejak awal perang di Timur Tengah, diperparah kekeringan yang menyebabkan penurunan drastis debit sungai di seluruh Eropa. Perdana Menteri Moldova, Vasile Tofan, menyatakan bahwa dampak perang Timur Tengah dan Ukraina, dipadukan dengan fenomena kekeringan, memberikan tekanan luar biasa pada negara berpenduduk sekitar 2,4 juta jiwa ini.
Pemangkasan ketergantungan Moldova pada energi Rusia sejak 2022 telah membuat pemerintah beralih mengimpor dari Uni Eropa. Mengantisipasi kenaikan harga gas, pemerintah sedang mengkaji peningkatan anggaran untuk membantu keluarga rentan dalam membayar tagihan selama musim dingin. Sebagian besar populasi Moldova, sekitar setengah total penduduk, masih bergantung pada skema bantuan ini.
Selain masalah energi, Moldova juga menghadapi kekurangan air parah di sungai Dniester dan Prut, mengancam persediaan air minum bagi warga. Presiden Moldova, Maia Sandu, menegaskan bahwa status darurat dibutuhkan untuk memungkinkan otoritas bertindak cepat dalam membeli bahan bakar dan menangani menurunnya debit air Dniester serta kenaikan harga bahan bakar.
Sementara itu, pemimpin partai Sosialis oposisi, Igor Dodon, mengkritik langkah negara ini dan mendesak pemerintah untuk segera bernegosiasi dengan Rusia mengenai pasokan gas. Ia menekankan bahwa pemerintah harus mengambil pendekatan pragmatis untuk tidak mengorbankan rakyat Moldova.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.


You must be logged in to post a comment Login