Connect with us

ARTIKEL

Ambisi yang Berjalan di Lorong Senyap

Dalam pemerintahan yang waras, matahari tidak pernah bernegosiasi dengan bayang-bayang

Published

on

Kala senja di pantai Sondana, Bolaang Mongondow Selatan, momen ketika cahaya meredup dan bayang-bayang semakin jelas. (Dok. Marshal Datundugon/Pantau24.com)

Ada kekuasaan yang lahir dari mandat, dan ada kekuasaan yang tumbuh dari bayang-bayang. Yang pertama bekerja di bawah cahaya, diawasi waktu dan dicatat sejarah. Yang kedua bergerak senyap, menumpang terang orang lain, lalu perlahan ingin berdiri sendiri, bahkan bercita-cita menjadi matahari.

Di Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), tanah yang tak terlalu luas dan ingatan sosialnya masih hangat, bayang-bayang semacam itu jarang bertahan lama. Sebab di sini, jejak langkah cepat dikenali, dan gema bisik-bisik tak pernah benar-benar hilang. Apa yang disembunyikan hari ini, biasanya menjadi percakapan esok pagi.

Belakangan, yang terasa bukan riuh perdebatan kebijakan atau adu gagasan pembangunan, melainkan getar halus dari gerak-gerik yang terlalu percaya diri. Gerak yang seolah ingin mengatur arah angin, mengklaim peta, dan memosisikan diri lebih tinggi dari tempat yang semestinya.

Padahal semua telah diberi tempat. Semua telah memiliki ruang. Masalah muncul ketika ruang itu dirasa sempit oleh ambisi yang tumbuh terlalu cepat.

Dalam politik lokal, terutama di daerah yang masih menjunjung relasi kekerabatan dan kedekatan emosional, kekuasaan sering kali terasa cair. Ia mudah mengalir, mudah pula disalahpahami. Kedekatan dianggap kuasa. Kesamaan bendera dianggap restu. Kesenyapan pimpinan ditafsirkan sebagai izin.

Fakta menarik dan bermanfaat

Di titik itulah kekeliruan dimulai.

Sebab kekuasaan bukanlah cahaya yang boleh dipantulkan sesuka hati. Ia bukan milik kolektif yang bisa dibagi-bagi tanpa batas. Ia adalah mandat yang dijaga, bukan dipakai-pakai untuk menguji sejauh mana seseorang bisa melangkah tanpa ditegur.

Bolsel tidak kekurangan orang pintar. Ia juga tidak miskin kader. Namun sejarah politik daerah ini selalu menunjukkan satu pelajaran yang sama: pemerintahan mulai goyah bukan karena serangan dari luar, melainkan karena dorongan dari dalam yang kehilangan kendali.

Ambisi, jika dipelihara dengan sabar, bisa menjadi tenaga. Tetapi ambisi yang dibiarkan berlari tanpa tali, akan berubah menjadi nafsu menguasai. Ia tidak lagi bertanya “di mana batas”, melainkan “sejauh apa aku bisa melangkah sebelum dihentikan”.

Maka lahirlah manuver-manuver kecil yang tampak sepele, namun sarat makna. Percakapan yang dipelintir. Pengaruh yang diuji. Narasi yang dibentuk pelan-pelan, seolah hendak memberi tahu bahwa pusat kendali tidak lagi tunggal.

Padahal, dalam pemerintahan yang waras, matahari tidak pernah bernegosiasi dengan bayang-bayang.

Di sinilah peran pemimpin diuji, bukan dalam pidato atau seremoni, tetapi dalam keberanian menarik garis. Kekuasaan yang pernah dilonggarkan, jika tak segera dirapikan, akan ditarik orang lain lebih jauh. Dan ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah pilihan: membiarkan pemerintahan berjalan pincang, atau meluruskan arah dengan risiko tak disukai.

Bolsel masih punya waktu. Masih ada kesempatan untuk menata ulang ritme, membersihkan debu di lorong-lorong kekuasaan, dan memastikan semua kembali pada porsinya. Visi pembangunan belum selesai ditagih. Janji kepada rakyat masih terbuka di halaman depan.

Tetapi waktu tidak akan menunggu ambisi yang tak tahu diri.

Kepemimpinan yang kuat bukanlah kepemimpinan yang membiarkan semua merasa besar, melainkan yang memastikan tak ada siapa pun merasa lebih besar dari mandat itu sendiri. Sejarah daerah ini telah mencatat: ketegasan memang kerap sunyi, tetapi selalu dikenang.

Pada akhirnya, Bolsel tidak membutuhkan lebih banyak cahaya. Ia hanya perlu cahaya yang lurus, tidak terpecah oleh bayang-bayang yang terlalu percaya diri.

Sebab bila bayang-bayang dibiarkan tumbuh, ia akan lupa bahwa dirinya hanya ada karena matahari.

Dan ketika bayang-bayang mulai merasa sebagai sumber terang, saat itulah kekuasaan kehilangan arah.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply