Connect with us

PERISTIWA

Pengalaman Warga Indonesia dan Sejarah Filmnya di Washington, D.C.

Published

on

Kawasan Georgetown di Washington, D.C. tidak hanya dikenal sebagai salah satu daerah permukiman dan pusat perbelanjaan, tetapi juga rumah bagi universitas bergengsi Georgetown.

Daerah Georgetown juga menjadi lokasi bersejarah bagi salah satu film terkenal di Hollywood, “The Exorcist,” yang dirilis pada 1973. Film bertema horor supernatural yang ikonik ini berhasil sukses di Box Office dan meraih 10 nominasi Academy Awards.

Kini, film yang mengangkat cerita seputar praktek eksorsisme atau kerap disebut pelayanan pelepasan ini menjadi salah satu film waralaba yang dinanti oleh para pecinta film horor.

Dilansir dari situs resmi Georgetown University, pada 1941, mahasiswa William Blatty membaca cerita di surat kabar Washington Post mengenai praktik eksorsisme yang dilakukan pada anak remaja berusia 14 tahun di negara bagian Maryland.

Fakta menarik dan bermanfaat

Terinspirasi dari cerita tersebut, ia lalu menulis novel berjudul “The Exorcist” pada 1971, hingga akhirnya mengangkat cerita tersebut ke layar lebar.

Syuting film “The Exorcist” mengambil beberapa lokasi di daerah Georgetown, termasuk Healy Hall, Dahlgren Chapel, dan tangga yang menjadi ikon kota Washington, D.C.

Dibangun pada 1895, tangga curam yang terdiri dari 75 anak tangga di kawasan kota tua ini kerap dikunjungi oleh turis lokal, seperti lily.

“Sungguh luar biasa berada di suatu tempat, di mana mereka membuat film ikonik (yang) lokasinya sangat dekat dari rumah. Saya bahkan tidak pernah menyadari betapa dekatnya tangga ini dengan tempat tinggal saya. Dan saya sangat menyukai filmnya. Saya sangat gembira. Saya terpesona oleh tangga,” ujar Lily saat ditemui VOA.

Tanggal lokasi syuting film "The Exorcist," salah satu tujuan wisata yang diresmikan oleh walikota DC, Muriel Bowser, tahun 2015 (dok: VOA)

Tanggal lokasi syuting film “The Exorcist,” salah satu tujuan wisata yang diresmikan oleh walikota DC, Muriel Bowser, tahun 2015 (dok: VOA)

Tangga ikonik ini juga menjadi salah satu tujuan wisata pasangan suami istri, Jacob dan Annika Mannerstrale, yang sedang berlibur ke Washington, D.C.

“Kami ingin melihat universitasnya. Lalu kami melihat tangga ikonik dari film “The Exorcist” yang lama, yang kami tonton sudah lama sekali,” kata Jacob Mannerstrale kepada VOA.

Anika dan Jacob Mannerstrale, turis Swedia yang berkunjung ke tangga ikonik "The Exorcist" (dok: VOA)

Anika dan Jacob Mannerstrale, turis Swedia yang berkunjung ke tangga ikonik “The Exorcist” (dok: VOA)

Pada 2015, Wali Kota Muriel Bowser meresmikan tangga ini menjadi salah satu tujuan wisata resmi kota Washington, D.C., dan mengakui kontribusinya terhadap sejarah perfilman Washington, D.C.

Elemen Nostalgia “The Exorcist”

Kini, 50 tahun setelah film yang pertama, “The Exorcist” kembali dengan film yang ke-6, berjudul “The Exorcist: Believer,” di bawah arahan sutradara David Gordon Green. Film yang dirilis pada Oktober 2023 lalu ini bercerita mengenai dua remaja yang suatu hari hilang tanpa jejak di hutan.

Aktris Lidya Jewett, kiri, dan Olivia O'Neill dalam sebuah adegan di "The Exorcist: Believer." (Universal Pictures/AP)

Aktris Lidya Jewett, kiri, dan Olivia O’Neill dalam sebuah adegan di “The Exorcist: Believer.” (Universal Pictures/AP)

Tiga hari kemudian keduanya ditemukan tanpa mengingat apa pun. Sejak itu, serangkaian peristiwa aneh dan teror yang tak masuk akal pun mulai muncul.

Diaspora Indonesia, Frisky kaunang yang adalah pecinta horor sekaligus kolektor lebih dari enam ribu film di Highland, California, mengatakan film waralaba ini berhubungan dengan elemen spiritual.

“Kayak God vs evil, kayak gitu-gitu. Dan yang “Believer” ini masih sama juga ngomongin tentang dua hal itu. Apakah orang lebih percaya sama God atau lebih cenderung ke demon (iblis-red)? Tinggal pilihannya yang mana,” jelas Frisky Kaunang.

Percaya atau Tidak?

Lantas, bagaimana pendapat sang sutradara tentang tema supernatural yang kental dalam film ini?

David Gordon Green, sutradara film "The Exorcist" Believer saat diwawancara virtual oleh VOA Indonesia (dok: Universal Pictures)

David Gordon Green, sutradara film “The Exorcist” Believer saat diwawancara virtual oleh VOA Indonesia (dok: Universal Pictures)

“Saya sudah melihat banyak hal yang dapat saya tidak bisa pahami atau jelaskan. Saya suka dengan banyaknya cara kita dapat mengilustrasikan hal-hal yang tidak kita pahami. Namun, saya tidak dapat mengatakan secara spesifik, kalau hal-hal supernatural telah pernah hadir dalam kehidupan saya,” kata sutradara David Gordon Green kepada VOA.

Dave dan Lily berkunjung ke tangga ikonik yang menjadi lokasi syuting "The Exorcist," di Georgetown, Washington, D.C. (dok: VOA)

Dave dan Lily berkunjung ke tangga ikonik yang menjadi lokasi syuting “The Exorcist,” di Georgetown, Washington, D.C. (dok: VOA)

Terkait eksorsisme, menurut Lily, dulu banyak orang yan memiliki kondisi medis tertentu, seperti masalah kejiwaan dan kondisi medis, seperti epilepsi dan rabies yang salah dimengerti.

“Orang-orang menggunakan apa yang mereka ketahui, seperti agama, dan mereka mencoba memberikan pengusiran setan kepada orang-orang. Mungkin ini berhasil bagi sebagian orang, karena mereka merasa membebaskan dan menyembuhkan mereka,” kata Lily.

Pengalaman Eksorsisme

Komedian Rony Immanuel yang dikenal sebagai Mongol Stres mengaku “percaya banget,” bahkan pernah mendapatkan pelayanan eksorsisme atau pelepasan. Ia kerap mengangkat tema pelepasan dalam pertunjukannya.

“Sebagai (mantan,red) aktivis Satanism ya untuk meng-clear-kan hidup, ya kita harus dilakukan exorcism,” cerita Mongol Stres saat ditemui VOA di Kota New York.

Pelawak tunggal, Rony Imanuel menceritakan kepada VOA mengenai pengalamannya mendapatkan pelayanan pelepasan atau eksorsisme (dok: VOA)

Pelawak tunggal, Rony Imanuel menceritakan kepada VOA mengenai pengalamannya mendapatkan pelayanan pelepasan atau eksorsisme (dok: VOA)

Mongol Stres mendapatkan pelayanan pelepasan akhir tahun 90-an dan awal 2000-an saat berumur sekitar 21-22 tahun, selama kurang lebih 3 tahun. Menurutnya, kebanyakan orang sudah paham dengan pelayanan pelepasan ini.

“Mungkin 60 persen kayaknya orang Kristen memahami tentang pelepasan. Tetapi tinggal bagaimana caranya tuh kan ada beda-beda. Ada gereja yang ini beda dengan gereja yang satu. Prosesinya ada yang begini doanya, hanya perbedaannya di situ doang sih,” ceritanya.

Proses pelayanannya pun memakan waktu yang tidak sebentar. Ia mendapatkan pelayanan itu mulai dari setelah makan siang hingga malam hari.

“Kalo pengalaman ya pasti.Kan kita dateng share ke hamba Tuhannya. Kita mengalami begini-begini, terus kita mantan dari begini-begini, dicari akar masalahnya, dicari alurnya, dilakukan pelayanan pelepasan,” ujar Mongol Stres.

“Tetapi dalam hal pelepasan itu maupun rukiah satu landasannya adalah kejujuran. Karena kalau kita nggak jujur berarti kita kayak muter. Jadi apa yang kita alami, apa yang mungkin kita pernah lakukan, jujur,” tambahnya.

Mengenai tema pelepasan yang kerap menjadi topik pertunjukannya, Mongol Stres mengaku ingin agar orang-orang mengetahui tentang “sepak terjang dunia satanisme” dan apa yang harus dilakukan ketika berada di lingkungan itu.

“Nah, saya pengin ngajarin itu, biar kita jangan sampai akhirnya terjebak di hal-hal yang sejujurnya bertentangan dengan kaidah agama atau norma dan hukum,” tegasnya.

“Saya pengin teman-teman anak muda khususnya, kadang pengin biar terlihat muda. Dia enggak tau bahwa ternyata dia ngikutin sekte. Saya pengin mereka aware terhadap hidup. Ya, kembali lah. Kalau dia [seorang] Muslim lakukan salat Jumat, tadarusan, salat lima waktu. Buat yang Kristen ke gereja, jangan lupa baca Alkitab, dan agama-agama yang lain tetap lakukan yang namanya apa yang agamamu ajarkan,” tambahnya.

Eksorsisme masih terus menjadi tema hangat dalam industri perfilman Hollywood. Rencananya, versi terbaru dari film “The Exorcist” akan dirilis pada April 2025. [di/ka]

Sumber: VOA

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply