Connect with us

PERISTIWA

Menjadi Agen Perubahan di Usia Muda, Mengapa Tidak?

Published

on

“Namaku Muhammad Fahry Azizurahman. Usiaku 17 tahun. Sekarang aku duduk di kelas 3 SMA di SMAN 7 di kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu.”

Di usia semuda itu, Fahry mendirikan Generasi Anti Kekerasan hampir setahun silam. Organisasi ini banyak mengedukasi remaja untuk menolak Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) serta Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE ). Aktivisme Fahry dalam hal ini bukanlah hal yang baru ia jajaki.

M Fahry Azizurahman, pendiri Generasi Anti Kekerasan - GAK. (dok. pribadi)

M Fahry Azizurahman, pendiri Generasi Anti Kekerasan – GAK. (dok. pribadi)

Sejak usia 6 tahun, ia terlibat kegiatan belajar di Yayasan Pusat Pendidikan untuk Perempuan dan Anak (PUPA). Bukan hanya pelajaran menggambar dan mewarnai yang ia peroleh. Ketika itu ia juga telah belajar mengenai pencegahan kekerasan seksual sedari dini, sesuai dengan usianya. Misalnya, jelas Fahry, mengenali anggota tubuh apa yang tidak boleh dipegang orang lain.

Fakta menarik dan bermanfaat

Menginjak usia 15 tahun, ia membaca bahwa Indonesia sedang dalam keadaan gawat darurat kekerasan seksual. Ketika itu ia tersadarkan bahwa di lingkungan terdekatnya di Bengkulu, sudah banyak kekerasan seksual yang menelan korban terutama remaja. Fahry pun kembali aktif sebagai fasilitator anak di Yayasan PUPA yang kebetulan diketuai tantenya, yang biasa ia panggil Bunda Susi.

Peserta Festival Jangan Asal Klik, untuk pencegahan hoax. (dok. M Fahry A)

Peserta Festival Jangan Asal Klik, untuk pencegahan hoax. (dok. M Fahry A)

Tanpa lepas dari mentoring Bunda Susi, Fahry akhirnya melepaskan diri dari yayasan tersebut dan membangun sendiri organisasinya yang beranggotakan remaja semua. Alasannya, “Aku yakin, kalau remaja semua, aku satu pemikiran, dan aku bisa melaksanakan program-program yang aku mau.”

Sejak itulah ia mulai membuka rekrutmen para remaja yang mau berkontribusi dalam hal pencegahan kekerasan seksual.

Untuk mengedukasi rekan-rekannya, Fahry sendiri membekali diri dengan mengikuti berbagai kegiatan, sampai akhirnya ia baru-baru ini masuk 3 besar tokoh anak inspiratif dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Apa yang ia harapkan dari organisasinya?

“Aku harap adanya organisasi ini dapat mengedukasi teman-teman dan meminimalisir kekerasan seksual, terutama di provinsi Bengkulu,” katanya.

Edukasi anak panti asuhan, Program Dare to Care. (Dok. M Fahry A)

Edukasi anak panti asuhan, Program Dare to Care. (Dok. M Fahry A)

Salah satu organisasi nirlaba yang bersinggungan langsung dengan orang-orang muda yang menjadi agen perubahan adalah Ashoka Indonesia. Hadir di Indonesia sejak tahun 1980-an, salah satu program organisasi yang berpusat di AS ini adalah Ashoka Young Changemakers. Program yang dimulai di Indonesia pada tahun 2005 ini, kata Youth Year Manager Ashoka Indonesia, Ara Kusuma, mencari anak-anak usia 12 sampai 20 tahun yang sudah bergerak untuk meluncurkan suatu solusi nyata bagi permasalahan yang dihadapi di sekitarnya.

Ara Kusuma, Youth Year Manager Ashoka Indonesia. (Dok. pribadi)

Ara Kusuma, Youth Year Manager Ashoka Indonesia. (Dok. pribadi)

Salah satu contoh Young Changemaker yang Ara sebut adalah Kynan Tegar, remaja 18 tahun dari masyarakat adat Dayak Iban, Kalimantan.

Dalam talk show menyambut Hari Anak Nasional yang diselenggarakan organisasi Ashoka Asia Tenggara dan PLAN Indonesia beberapa waktu lalu, Kynan mengatakan, ia sangat prihatin atas berkurangnya areal hutan hujan tropis di Kalimantan, dari 80 persen menjadi 30 persen dalam kurun 100 tahun saja.

Selain mengenai hak-hak masyarakat adat, lanjut Kynan dalam talk show itu, ia membuat film untuk mengadvokasi tentang iklim dan untuk menghentikan deforestasi. Ini selaras dengan dunia yang ia bayangkan akan ia tinggali, yakni, “Dunia di mana kita dapat menemukan keseimbangan antara pertumbuhan dan hubungan kita dengan Bumi, dan di mana hubungan itu tidak pernah hilang.”

Kynan, kata Ara, melihat ada ajaran, budaya maupun nilai-nilai kearifan lokal mengenai bagaimana masyarakat adatnya menjaga hutan belum terdokumentasi dengan baik. Karena memiliki hobi membuat film, ia membantu mendokumentasikan hal-hal tersebut.

“Dia pertama kali membuat film pada usia 13. Nama filmnya Mali Umai. Ada di YouTube juga dan sudah ditayangkan di Bali International Indigenous Film Festival,” jelas Ara.

Film dokumenter itu juga menjadi pelengkap dokumentasi bagi masyarakat adat Dayak Iban untuk mendapatkan pengakuan negara mengenai hak penuh mereka atas hutan adat seluas 9.480 hektare pada tahun 2020.

Ara menambahkan, film-film dokumenter Kynan menyebarluaskan nilai dan informasi yang sangat berguna untuk menjaga kelestarian alam bagi masyarakat Indonesia dan dunia.

Sementara itu, dalam usia organisasi yang masih sangat muda, Generasi Anti Kekerasan sudah mulai menunjukkan dampak aktivitasnya, sebagaimana tergambar dalam hasil survei baru-baru ini. Respons positif yang didapati Fahry di antaranya,

“Jawabannya begini, ‘ya, aku mendapatkan dampak baiknya dan aku juga bsa mencegahnya dari diriku sendiri.’ Dan 68% semenjak edukasi itu, mereka nggak pernah dapat kekerasan itu lagi, terutama KBGO, KSBE. Itu membuat aku bangga juga dengan prosesku.”

Target utama kegiatan edukasi Generasi Anti Kekerasan adalah pelajar SMP dan SMA. Fahry, yang memiliki panutan tokoh anak Kak Seto, Menteri Peningkatan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Bintang Puspayoga, serta Bunda Susi, juga tak jarang bertemu dan berdiskusi dengan DPRD Provinsi Bengkulu maupun Wali Kota Bengkulu mengenai kebijakan yang dapat meminimalisir kekerasan seksual.

BPHN mengasuh program kolaborasi dengan Kemenkumham dan PUPA untuk edukasi cegah kekerasan di lingkungan SD. (dok. M Fahry A)

BPHN mengasuh program kolaborasi dengan Kemenkumham dan PUPA untuk edukasi cegah kekerasan di lingkungan SD. (dok. M Fahry A)

Untuk mendorong remaja dan anak-anak korban kekerasan seksual berani melaporkan kasus mereka, organisasi yang ia pimpin, Yayasan PUPA serta Kominfo setempat membuat aplikasi Mela Lapor! (Ayo Lapor!). Aplikasi ini antara lain berisikan pedoman untuk melaporkan kasus kekerasan. Begitu sudah tercatat di dalam sistem, korban akan dirujuk ke instansi terkait, jelas Fahry yang tidak meninggalkan tanggung jawabnya belajar di sekolah meski sibuk dengan aktivismenya. Ia bahkan berharap setelah kuliah kelak, ia bisa menghadirkan Generasi Anti Kekerasan di semua provinsi di Indonesia.

Dan bagi Fahry, menjadi pembaharu pada usia muda, mengapa tidak? Ini jawabnya.

“Aku percaya bahwa anak muda adalah aset perubahan dunia, tanpa anak muda, perubahan itu tidak ada. Kalau bertemu DPR, aku selalu bilang begini, ‘Pak, tolong terapkan prinsip no one left behind.’ Maju bersama tanpa meninggalkan satu orang di belakang. Satu orang di belakang ni artinya generasi muda. Karena kita yang mau belajar, dan tingkat semangatnya tinggi.”

Melihat contoh-contoh pembaharu berusia muda seperti Fahry dan Kynan, Ara mengakui mula banyak anak yang memiliki empati dan kesadaran mengenai masalah di sekitar mereka. Namun, lanjutnya, “Yang masih menjadi PR saat ini adalah how to-nya. ‘Bagaimana ya aku bisa bergerak, bagaimana aku bisa berkontribusi menyelesaikan masalah tersebut.’ Ini yang menjadi banyak tanda tanya anak Indonesia saat ini, dan juga karena tidak semuanya punya support system yang bisa membantu mereka mewujudkan ide-ide dan inovasi sosial yang ada dalam pikiran mereka tersebut.”

Ada tiga program utama Ashoka Young Changemakers, kata Ara. Pertama, mengidentifikasi, menyeleksi orang-orang berusia 12 hingga 20 tahun yang sudah menjalankan inisiatif sosial atau lingkungan di sekitarnya bersama dengan tim, tidak bergerak sendiri. Nominasi para pembaharu muda ini berlangsung sepanjang tahun, namun Ashoka Indonesia memilih 10-12 Young Changemaker itu setiap dua tahun sekali.

Kedua, mereka yang lolos menjadi Ashoka Young Changemakers, bisa berjejaring dengan para pembaharu di jaringan internasional Ashoka di 80 negara yang bergerak d berbagai bidang. Ini memungkinkan potensi untuk berkolaborasi juga, jelas Ara.

Ketiga, ini terkait gerakan Everyone a Changemaker yang diusung Ashoka. Untuk memastikan setiap anak muda yang terpilih dalam program ini dapat tumbuh dan berkembang dengan keterampilan change making ini, lanjut Ara, “Kita perlu mengajak orang-orang lain. Anak-anak muda yang tergabung dengan Ashoka Young Changemakers ini merupakan co-leader dan kolaborator bagi Ashoka. Untuk mengajak teman-teman lain di luar sana, anak-anak muda untuk bisa menjadi change maker sepertimu juga.”

Ara meyakini kesempatan untuk berkontribusi bagi masyarakat tidak perlu menunggu usia dewasa. Karena, menurutnya, “Saat muda pun kita punya kreativitas, punya tenaga, kemampuan untuk berkolaborasi, agar bisa meluncurkan solusi-solusi yang berpihak pada kebaikan bersama, untuk masyarakat di sekitar. [uh/ab]

Sumber: VOA

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply