Connect with us

PERISTIWA

Jokowi Angkat Bicara Soal Kesalahan Desain Jembatan Lengkung LRT

Published

on

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengungkapkan wajar jika terjadi kesalahan dalam pembangunan moda transportasi publik ini. Menurutnya berbagai kekurangan tersebut akan segera diperbaiki karena pemerintahannya mengutamakan keselamatan dan keamanan.

“Ini LRT yang pertama kali kita kerjakan. Jadi kalau ada koreksi ya perlu ada evaluasi, perlu ada yang diperbaiki ya kita perbaiki. Jangan senang mencari-cari kesalahan karena kesalahan pasti ada, karena baru pertama kali. Dan ini adalah produksi INKA, konstruksinya juga dikerjakan oleh kita sendiri, semuanya oleh kita sendiri. Jadi kalau ada kurang-kurang ya harus kita maklumi tetapi kita perbaiki,” ungkap Jokowi.

Ia pun membantah anggapan dari sejumlah pihak yang mengatakan bahwa perencanaan pembangunan LRT tidak matang. Jokowi menegaskan bahwa dinamika di lapangan pasti akan terjadi sehingga permasalahan kerap muncul.

Menhub Budi Karya (kanan) menjelaskan kepada Presiden Jokowi terkait operational LRT Jabodebek. (Biro Setpres RI)

Menhub Budi Karya (kanan) menjelaskan kepada Presiden Jokowi terkait operational LRT Jabodebek. (Biro Setpres RI)

“Semuanya direncanakan, semuanya dihitung, semuanya pasti ada perencanaan. Tetapi di lapangan kadang-kadang bisa ada adjustment, ada penyesuaian, saya kira biasa,” tambahnya.

Jokowi berharap LRT ini bisa dibangun terus hingga menjangkau ke kota-kota penyangga Jakarta seperti Bogor, Bekasi, Depok, hingga Tangerang. Presiden pun berharap kehadiran LRT Jabodebek ini dapat mengurangi kemacetan di Jakarta.

Jokowi sendiri mengatakan ia tidak memilki keluhan saat menjanjal LRT Jabodebek..

“Nyaman, dan semuanya alhamdulilah lancar. Memang kita mau melihat kesiapan sistem, urusan keamanan, keselamatan, harus dilihat betul. Jadi tidak usah tergesa-gesa untuk segera dioperasikan, tetapi semuanya yang berkaitan dengan sistem, keamanan, keselamatan harus tetap diutamakan,” tegasnya.

LRT Jabodebek nantinya akan melayani dua rute perjalanan yakni Cibubur-Dukuh Atas sepanjang 26 kilometer dan Bekasi Timur-Dukuh Atas sepanjang 30 kilometer.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo membeberkan sejumlah permasalahan dalam pembangunan LRT Jabodebek ini.

Seperti dikutip dari Kompas.com, perempuan yang akrab dipanggil Tiko ini mengungkapkan bahwa terdapat kesalahan desain pada bagian jembatan rel lengkung atau longspan di Kuningan, Jakarta Selatan.

Menurutnya, hal tersebut membuat kereta LRT Jabodebek bergerak melambat saat melewati tikungan itu.”Kalau lihat longspan dari Gatot Subroto ke Kuningan kan ada jembatan besar, itu sebenarnya salah desain,” ungka Tiko.

Ia menyayangkan BUMN Karya yakni PT Adhi Karya (persero) Tbk, selaku kontraktor yang membangun lintasan ini yang disebut tidak melakukan simulasi dan perhitungan matang terkait tingkat kemiringan dan kecepatan LRT ini.

“Karena dulu Adhi sudah bangun jembatannya, tapi dia tidak mengetes sudut kemiringan keretanya. Jadi sekarang kalau belok harus pelan sekali, karena harusnya itu lebih lebar tikungannya. Kalau tikungannya lebih lebar, dia bisa belok sambil speed up,” jelas Tiko.

Jabodebek LRT departing test from Harjamukti station train during test run, 6 November 2019. (Wikipedia/Ariojkt)

Jabodebek LRT departing test from Harjamukti station train during test run, 6 November 2019. (Wikipedia/Ariojkt)

Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan dan Penguatan Wilayah, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Jokowi bahwa proses pembangunan sebuah moda transportasi publik untuk menjadi sempurna membutuhkan waktu. Menurutnya, yang terpenting adalah standar keamanan sudah terpenuhi.

Djoko yang juga sudah menjajal LRT Jabodebek beberapa kali menyatakan bahwa berbagai kekurangan yang ada masih bisa diperbaiki.

“Kalau hal-hal yang kurang itu masih ada ruang untuk diperbaiki. Berkaitan dengan konstruksi itu pun sudah melalui tahap uji layak yang dilakukan oleh Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan dari Kementerian PUPR. Tanpa adanya rekomendasi dari komite itu, tidak mungkin kereta ini dioperasikan,” ungkap Djoko.

Ketika menjajal LRT bersama dengan Presiden Jokowi, Djoko pun merasakan ada beberapa hal yang mesti diperbaiki.

“Memang tadi pas sudah sampai di stasiun Dukuh Atas, pintu keluarnya kurang pas, jadi waktu berhentinya agak kaget. Kalau di tikungan ya wajar agak mengendor, tapi masih wajar,” tuturnya.

Sebelum nantinya benar-benar dioperasikan, kata Djoko, pihak pengelola LRT harus melakukan simulasi jika terjadi kecelakaan. Menurutnya, hal tersebut penting untuk dilakukan.

Lebih jauh, Djoko meyakini moda transportasi publik LRT Jabodebek ini akan mampu menekan kemacetan. Dengan target penumpang sebanyak 140 ribu per hari, menurutnya, setidaknya kalangan menengah atas yang menggunakan mobil pribadi akan beralih menaiki LRT tersebut.

“Kapasitasnya 140 ribu penumpang. Kalau jumlah itu per hari berarti pulang pergi ada 70 ribu orang. Kalau jumlah orang yang bawa kendaraan itu 70 ribu, paling tidak ada 50 ribu kendaraan per hari yang sudah bisa beralih menggunakan LRT ini,” jelas Djoko.

Ia berharap, pemerintah akan memperbanyak lagi kendaraan penghubung dari berbagai pemukiman masyarakat ke stasiun LRT terdekat. Dengan begitu, LRT ini akan semakin terintegrasi dengan moda transportasi lain, dan akan terlihat lebih menarik di mata masyarakat. [gi/ab]

Sumber: VOA

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply