Connect with us

Bolmut

Waspada El Nino, Cadangan Beras Bolmut Kurang

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan jika musim kemarau melanda Indonesia diperkirakan terjadi bulan-bulan Juli, Agustus dan September 2023.

Published

on

BOLMUT,PANTAU24.com- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan jika musim kemarau melanda Indonesia diperkirakan terjadi bulan-bulan Juli, Agustus dan September 2023.

BMKG juga meminta untuk mewaspadai potensi terjadinya El Nino yang bisa saja berdampak pada krisis pangan diberbagai daerah di Indonesia.

Di Bolmut sendiri menurut Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara Muhammad Candra Buana awal Juli 2023 ini sebenarnya sudah memasuki masim kemarau.

Hanya saja karena suhu muka laut cenderung hangat di Sulawesi Utara (Sulut) sehingga hujan masih terjadi. Ia mengatakan untuk El Nino masih pada fase lemah.

Walau dalam menghadapi musim kemarau pihaknya mengingatkan kepada warga Sulut termasuk Bolmut untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi, banjir, tanah longsor dan hujan lebat.

Bagaimana cadangan Beras Pemkab Bolmut?

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) melalui Dinas Ketahanan Pangan (DKP) menyebut stok cadangan pangan untuk beras saat ini 5.250 Kg atau 5 ton.

Kepala Bidang (Kabid) ketersediaan pangan Yulianti Mokoginta mengatakan stok cadangan pangan beras masih sangat kurang.
Menurutnya, untuk Bolmut sesuai dengan jumlah penduduk harusnya sekitr 35 ton setiap tahun.

“Dan harus ada. Hanya saja saat ini Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) tidak mencapai 35 ton,” ujarnya.

Saat ditanya apakah 5 ton bisa bertahan hingga akhir tahun atau saat bulan kemarau panjang yang diprediksi BMKG pada tahun 2023, Mokoginta menjelaskan CPPD bisa di salurkan kalau ada kondisi rawan pangan, bencana, gagal panen.

“Dan beberapa kondisi yg mengharuskan CPPD di salurkan, jadi kalau tidak ada kondisi seperti itu. Sampai September pasti CPPD masih aman,” katnya.

Waspada Kemarau Panjang

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut Indonesia perlu lebih mewaspadai potensi terjadinya El Nino yang makin pasti.

Selain memicu kekeringan, minimnya curah hujan yang terjadi, juga akan berpotensi meningkatkan jumlah titik api, sehingga makin meningkatkan kondisi  kerawanan untuk terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

El Nino sendiri adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut di atas kondisi normal, terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang mengakibatkan bergesernya potensi pertumbuhan awan dari Indonesia ke wilayah Samudera Pasifik Tengah yang akan mengurangi curah hujan di Indonesia.

Langkah-langkah strategis perlu dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi dampak lanjutan. Utamanya sektor-sektor yang sangat terdampak seperti sektor pertanian, terutama tanaman pangan semusim yang sangat mengandalkan air.

Situasi ini perlu diantisipasi agar tidak berdampak pada gagal panen yang berujung pada krisis pangan.

Sementara itu, Plt Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab mengatakan hasil pemantauan BMKG prediksi hujan bulanan periode Juni-Oktober 2023 diprediksi mencapai kondisi bawah normal (atau lebih kering dari rata-ratanya).

Wilayah yang diprediksi mengalami hujan dengan kategori bawah normal pada bulan Juni 2023 adalah:

Sebagian Aceh, sebagian Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Barat, Sebagian Sulawesi Tenggara.

Sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan sebagian Papua.

Sedangkan untuk bulan Juli, Agustus dan September (JAS) 2023 yang diprediksi sebagai periode puncak musim kemarau, curah hujan bawah normal diprediksi akan terjadi pada wilayah yang lebih luas

Wilayah tersebut meliputi: sebagian besar Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Sulawesi Utara, Maluku Utara, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan sebagian Papua.