Vaksin Corona Punya Efek Samping, Ini Penjelasan Kepala BPOM

Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito

PANTAU24.COM-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi merilis izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 alias izin emergeny Use Authorization atau EUA atas vaksin Sinovac.

Pasca mengantongi izin darurat EUA ini , vaksin corona Sinovac atau CoronaVac ini bisa beredar dan digunakan.

Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito dalam konferensi pers secara virtual, Senin 11 Januari 2021 menjelaskan, secara keseluruhan, vaksin Covid-19 CoronaVac aman digunakan dengan efek samping ringan dan sedang

“Efek samping yang timbul berupa nyeri, iritasi, pembengkakan. Adapun efek sistemik berupa nyeri otot, fatigue dan demam,” kata Penny dalam konferensi pers.

Penny juga menyebut, efek samping berat yang banyak ditakutkan akan dialami setelah menerima vaksin corona bikinan Sinovac dalam tingkat yang rendah.

Fakta menarik dan bermanfaat
Baca Pula:  Gempa 6,2 Magnitudo Guncang Majene, Sejumlah Gedung Roboh

Dari proses pengujian BPOM, efek samping berat hanya terjadi sekitar 0,1 hingga 1 persen usai vaksin disuntikkan ke dalam tubuh seseorang.

“Frekuensi efek samping dengan derajat berat adalah sakit kepala, gangguan di kulit atau diare yang dilaporkan hanya sekitar 0,1 sampai 1 persen,” ujar Penny.

Kata Penny, efek samping yang telah disebutkan merupakan efek samping yang lumrah ketika seseorang menerima dosis vaksin, bahkan bisa dengan cepat hilang.

“Efek samping tersebut merupakan efek samping yang tidak berbahaya dan dapat pulih kembali sehingga secara keseluruhan kejadian efek samping ini juga dialami pada subjek yang mendapatkan plasebo,” jelasnya.

Baca Pula:  Tatong Bara Mencoblos di TPS 10 Kelurahan Matali

Penny juga yakin bahwa vaksin corona ini memiliki tingkat efikasi yang cukup baik.

Ini nampak dari hasil pemantauan dan analisis dari proses uji klinis yang dilakukan dilakukan di Indonesia dan juga mempertimbangkan hasil uji klinis di Brasil dan Turki.

“Vaksin sinovac menunjukkan kemampuan dalam pembentukan antibodi di tubuh dan kemampuan antibodi dalam membunuh atau menetralkan virus, imunogenisitas, yang dilihat dari uji klinik fase 1 dan 2 di China, dengan periode pemantauan 6 bulan,” ujarnya.(*)

Leave a Reply

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com