Connect with us

PERISTIWA

Pandangan Rohaniwan Diaspora Indonesia tentang Tradisi Natal di AS

Published

on

Dua rohaniwan diaspora Indonesia berbagi pandangan mereka mengenai perayaan Natal di Amerika. Mereka mengamati adanya kemegahan dan sifat sekuler dari tradisi ini dengan dekorasi yang semarak, pesta-pesta yang meriah, pertukaran hadiah yang meluas, dan aksi belanja yang ramai sehingga menjurus pada komersialisasi hari besar keagamaan ini. Namun, mereka juga mengakui bahwa semua kegiatan yang bersifat superfisial ini ikut memacu perekonomian dan secara esensial memperkuat ikatan dan nilai-nilai keluarga serta semangat setia kawan lintas budaya.

Kedua rohaniwan diaspora Indonesia di Amerika yang dihubungi oleh VOA adalah Pendeta Aldo Siahaan dari Philadelphia Praise Center (PPC), sebuah kongregasi Kristen Mennonite di kota Philadelphia, Pennsylvania, dan Romo Charles Virgenius, O. Carm yang kini menempuh studi lanjut di Catholic University of America (CUA) di Washington, D.C.

Mengenai perbedaan tradisi Natal di Amerika ini Pendeta Aldo yang berasal dari marga Batak Tapanuli kelahiran Jakarta mengatakan bahwa tekanannya berbeda dengan tradisi di Indonesia, di mana kegiatan Natal berpusat pada ibadah di gereja dan kumpul keluarga.

“Big difference, of course (perbedaan besar, tentu), tapi mungkin karena saya bertumbuhnya di Indonesia. Jadi, akar saya masih Indonesia banget, dan Natal untuk di Indonesia sangat keluarga, dan bukan hanya keluarga berkumpul, tapi keluarga sama-sama ke gereja dan setelah ke gereja berkumpul, nanti ada hari kedua, ke gereja lagi dan berkumpul lagi,” kata Aldo.

Fakta menarik dan bermanfaat

Natal dan konsumerisme

Di Amerika, menurut pengamatan Pendeta Aldo sejak kedatangannya pada tahun 1998 hingga sekarang, semua kegiatan lebih berfokus pada konsumerisme.

“Ada yang kumpul keluarga, Tapi penekanannya lebih ke tukar kado. Saya melihat itu semuanya bisnis, bagaimana untuk uang berputar di negara ini. Dan, sorry to say (maaf), kalau di Indonesia benar-benar kita tahunya inti Natal adalah Jesus Kristus, tapi di Amerika, nama Yesus itu ditaruh paling bawah, tekanannya sudah terbalik,” jelasnya.

Salah seorang pendiri PPC pada tahun 2005 ini berpendapat bahwa terkait Natal, hadiah berupa materi bisa bisa hilang sewaktu-waktu, dan karena begitu banyaknya hadiah, orang sering melupakannya dan bahkan tidak lagi menghargainya.

“Bahkan yang lebih gila lagi, kita dapat hadiah hari ini, mungkin minggu depan sudah tidak tahu kita simpan di lemari mana, terlalu banyak…Saya lebih setuju sebenarnya hadiahnyanya itu adalah bagaimana kita memberikan hidup kita kepada Tuhan Yesus yang sudah menjadi juru selamat kita,” tambahnya.

Keunikan Natal di Amerika

Pengamatan sedikit berbeda disampaikan oleh Romo Charles Virgenius O. Carm dari Bali yang sekarang melanjutkan studi bidang sistematik teologi di CUA. Baginya, Natal kali ini adalah yang kedua dan ternyata berbeda dari bayangannya ketika masih di Indonesia. “Bayangan saya ketika saya di Indonesia adalah Natal itu selalu identik dengan salju, jadi White Christmas, putih,” ujarnya. Dia mengatakan bahwa salju belum turun di sekitar ibu kota AS pada Natal 2022, dan tahun ini pun belum terlihat tanda-tanda akan datangnya hujan salju.

Namun, Romo Charles mengamati adanya keunikan Natal di Amerika.

Romo Charles Virgenius, O. Carm

Romo Charles Virgenius, O. Carm

“Yang unik menurut saya adalah udaranya pasti dingin. Jadi, ketika malam Natal, misa begitu, datang ke gereja itu benar-benar seperti yang ada di film-film yang pernah saya lihat itu. Orang-orang yang saya jumpai itu pakai baju yang baik, juga dengan jas atau mantel untuk membuat badan tetap hangat. Itu dari sisi penampilan luarnya. Lalu, untuk keadaan Natal sendiri di gereja-gereja, saya tahun lalu cukup terkesan. Jadi yang saya bayangkan adalah gereja itu akan sepi, tapi rupanya tidak,” jelasnya.

Menurut Romo Charles, ternyata banyak orang dengan antusias tinggi datang ke gereja bersama keluarga mereka. “Jadi benar-benar momen Natal ini seperti momen kebersamaan, bersama keluarga dan itu baik,” imbuhnya, seraya menambahkan “Menurut saya sungguh-sungguh suatu hal yang baik dan positif. Ini seperti gambaran bagaimana ketika Maria, Yosef, Yesus di Bethlehem sebagai keluarga bersama-sama dan kini juga semua orang merayakan Natal bersama-sama dengan keluarga. Ya, itu hal yang sungguh-sungguh menggembirakan bagi saya. Di AS sendiri rupanya kita tidak kehilangan entusiasme seperti itu dan ini sungguh-sungguh menarik buat saya.”

Mengenai komersiaslisasi Natal, Romo Charles berpandangan tren demikian tidak sepenuhnya buruk karena dalam kenyataan semua agama, juga semua kegiatan keagamaan berkaitan erat dengan komersialisasi. Hanya saja, tegasnya, “pada prinsipnya perlu dibedakan mana yang superfisial dan mana yang esensial.” Dia mencontohkan, promo besar-besaran dan diskon besar-besaran itu juga baik untuk membangkitkan dan menggerakkan ekonomi, dengan catatan itu semua tidak menjadi bagian utama dari pemaknaan Natal.”

“Tapi, di satu pihak kita tidak boleh terjebak dengan hal itu. Nah, di sini, jadi sepertinya ada tarik menarik. Mungkin sebagian orang ingin misalnya ke gereja dengan baju yang baru, dengan aksesoris yang baru, itu silakan saja, tetapi, itu adalah bagian dari superfisial. Apa yang esensial adalah bagaimana kita datang ke gereja dengan sebuah kerinduan. Kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhan, kerinduan untuk berbagi kehangatan dengan sesama. Itu mungkin bagi saya yang penting.”

Romo Charles menganggap bahwa satu aspek penting dari maraknya dekorasi Natal adalah nuansa Natal yang mulai terasa sejak akhir November, begitu Thanksgiving (Hari Bersyukur) selesai. “Menurut saya ini adalah hal yang baik, tetapi, sekali lagi apa yang kita rayakan secara lahiriah perlu juga dilatarbelakangi oleh kerinduan kita untuk mendekor terutama hati kita, misalnya dengan pengampunan pada sesama, dengan kasih, dengan kebaikan,” ungkapnya.

“Itu mungkin hal yang perlu kita perhatikan untuk sebuah dekorasi Natal. Seolah-olah kita hendak mempersiapkan tempat buat Yesus, bukan hanya secara fisik, tetapi juga lebih dari itu, di lubuk hati kita yang terdalam, tempat yang pantas, tempat yang layak untuk bayi Yesus,” tambahnya.

Perayaan Natal bernuansa Indonesia

Romo Charles baru satu kali mengikuti perayaan Natal bersama diaspora Indonesia, namun dia terkesan dengan nuansa dan kehangatan khas warga Indonesia, seperti yang dijumpainya ketika merayakan Natal bersama umat Katolik Washington, D.C., Virginia dan Maryland.

“Di sana tentu nuansanya adalah nuansa Natal bersama umat Indonesia dan itu masih terbawa cita rasa Natal di Indonesia. Contoh yang paling sederhana adalah lagu-lagunya masih bernuansa Indonesia, lalu juga kehangatan, yang mungkin menjadi ciri khas dari Natal, yaitu kehangatan ketika berjumpa dengan sesama, dengan keluarga-keluarga. Jadi, seperti kita ini pulang ke rumah, punya rumah untuk tempat kita berbicara, tempat kita sharing, tempat kita saling berbagi cerita. Itu menyenangkan sekali, dan terakhir tentu saja tidak lupa makanan khas Indonesia.”

Pendapat senada disampaikan oleh Pendeta Aldo. Dia menambahkan bahwa kehangatan Natal di PPC yang dipimpinnya tidak hanya dirasakan oleh jemaatnya yang sebagian besar adalah diaspora Indonesia di Philadelphia, tetapi juga oleh komunitas-komunitas imigran dari berbagai negara yang menjadikan kota yang dijuluki Brotherly Love atau “kota cinta persaudaraan” itu sebagai tempat tinggal baru mereka.

“Karena gereja Philadelphia Praise Center itu berafiliasi dengan banyak gereja lain dari yang berbahasa, (misalnya) Spanyol, Burma, jadi seperti beberapa waktu yang lalu kami kebaktian dalam empat bahasa. Jadi menyanyi lagu bahasa Indonesia, Inggris, Spanyol, Burma. Kami Natal juga begitu,” ujarnya.

Natal dan Kedermawanan

Pendeta Aldo tidak ingin menilai tingkat religiositas seseorang, tetapi diaspora Indonesia memerlukan komunitas, seperti yang diamati di gerejanya. Walaupun dia menegaskan bahwa dia tidak mewakili seluruh orang Indonesia di Philadelphia, atau orang Indonesia yang menjadi diaspora di Amerika, dia menjelaskan bahwa orang-orang diaspora membutuhkan komunitas.

Pendeta Aldo Siahaan

Pendeta Aldo Siahaan

“Dan mereka tahu mereka membutuhkan komunitas Indonesia. Di mana mereka bisa mendapatkan komunitas itu? Lewat gereja, karena di situ mereka tidak hanya berurusan dengan kerohanian, tapi mereka bisa membangun hubungan. Mereka bisa dapat informasi, pekerjaan, cari rumah, cara membesarkan anak, cari sekolah untuk anak. Semuanya itu adanya di gereja, di dalam komunitas.”

Pendeta Aldo juga melihat adanya kedermawanan para anggota komunitas, dalam keseharian dan terutama pada masa Natal. Dia memberikan contoh bagaimana anggota jemaatnya menunjukkan kemurahan hati dengan memberikan sumbangan berupa barang dan uang ketika PPC diminta untuk mensponsori satu keluarga imigran dari Venezuela.

Pada suatu hari Sabtu dia mengirim SMS dan pesan lewat WhatsApp blast ke semua anggota gereja untuk meminta dukungan bagi imigran suami-istri dengan dua anak tersebut, apalagi karena ketika itu bertepatan dengan musim Natal. Pada hari berikutnya, Minggu, warga menanggapi dengan memberikan sumbangan yang berlimpah.

“Saya menangis (terharu). Kenapa? Orang Indonesia ramai-ramai membawa baju dingin, pampers, uang. Saya pikir itu adalah hadiah yang luar biasa. Apakah mereka tahu orang-orang Venezuela itu? Tidak, mereka tidak tahu. Bahkan saya juga tidak kenal. Bagi saya itu Natal yang paling hebat yang pernah saya alami.”

Berkenaan dengan aksi Natal, Pendeta Aldo menyatakan bahwa seperti pada tahun-tahun sebelumnya, PPC selalu bekerja sama dengan gereja-gereja lain untuk mengulurkan tangan dan membantu siapa saja dan terutama orang-orang Indonesia yang baru datang ke Philadelphia, yang “jumlahnya banyak banget” dan mereka benar-benar meninggalkan Indonesia tanpa bekal pengetahuan tentang seluk-beluk hidup di tempat yang baru. Dia menegaskan bahwa PPC mengumpulkan donasi berupa makanan, pakaian dan uang untuk para pendatang baru, dan aksi itu dilakukan tidak hanya semasa Natal, tetapi sepanjang tahun.

Sumbangan yang terkumpul berupa makanan, pakaian dan uang jumlahnya banyak, kata Pendeta Aldo, dan semuanya tidak hanya diberikan kepada diaspora Indonesia, tetapi juga untuk orang-orang Hispanik dan lainnya.

“Kami banyak makanan, silakan ambil, ada banyak pakaian musim dingin, ambil.’ Kami bekerja sama dengan Trader Joe dan kami banyak banget diberkati. Ada yang nyumbang susu, tahu, bermacam makanan setiap minggu dan siapa saja boleh ambil, lintas agama. Kami nggak pernah bilang khusus untuk gereja PPC. Nope! Kami bilang siapa saja boleh datang. Ambil, ambil, ambil!”

Menutup bincang-bincang dengan VOA, Pendeta Also mengatakan bahwa keadaan dunia kini serba cepat dan tidak semakin membaik.

“Ya saya cuma mengundang kita semuanya bukan hanya di saat Natal, tapi di sepanjang kehidupan kita bahwa sometimes we need to slow down, hanya untuk ambil waktu antara kita pribadi sama Tuhan. Just being alone with God itu penting banget karena bagi saya kesunyian Natal itu yang luar biasa. Kesunyian Natal waktu Yosef, Maria berjalan mencari tempat tinggal; kesunyian di mana pada saat Yesus lahir hanya ada mereka bertiga. Itu hal-hal yang luar biasa, di mana kita harus kembali berefleksi, merenungkan kebaikan-kebaikan Tuhan di dalam kehidupan kita.”

Sementara itu, Romo Charles menekankan kembali kesamaan makna Natal, baik di Indonesia, Amerika atau di berbagai negara lainnya, bahwa “setiap kali kita merayakan Natal, kita selalu diajak untuk merayakan kembali bagaimana keluarga itu penting sebagai tempat di mana kita bisa mengalami kembali kehangatan. “Saya yakin itu yang dialami oleh Yesus dulu. Meskipun dia lahir di tempat yang tidak layak, tetapi di sana ada Maria dan Yosef bersama dengan dia. Di dalam kesederhanaan palungan, di sana ada kasih yang besar, dan bagi saya itu adalah arti sebuah kehangatan,” tegasnya.

Mengakhiri pembicaraan dengan VOA, Romo Charles mengucapkan selamat Natal bagi semua yang merayakannya.

“Selamat bergembira bersama keluarga, bersama orang-orang terkasih, dan semoga damai Natal menyertai kita dan menolong kita untuk menjadi pribadi yang hangat, yang mau berbagi dan mau juga menolong sesama kita, terutama mereka yang membutuhkan. Jadi, dengan demikian, Yesus lahir di hati kita bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk sesama. Semoga Damai Natal menyertai kita semua.” [lt/ab]

Sumber: VOA

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply