Connect with us

PERISTIWA

Korban Ledakan Tungku Smelter Morowali Bertambah, Pemerintah Didesak Bentuk Tim Pencari Fakta

Published

on

Jumlah korban tewas dalam peristiwa kecelakaan kerja di pabrik smelter PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) bertambah menjadi 13 orang, terdiri atas sembilan pekerja Indonesia dan empat pekerja asal China. Sementara korban luka-luka mencapai 46 orang.

Kepala Divisi Media Relations PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Dedy Kurniawan, mengatakan korban luka pada umumnya disebabkan karena terkena uap panas. Sejumlah 29 korban luka dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Morowali, 12 orang sedang dilakukan observasi, dan lima orang rawat jalan,

“Manajemen PT IMIP telah menanggung seluruh biaya perawatan dan perawatan korban pascakecelakaan, serta santunan bagi keluarga korban. Kami juga telah menyerahkan satu jenazah korban kepada keluarga korban,” kata Dedy Kurniawan dalam siaran Pers yang diterima VOA, Minggu (24/12) menyatakan hingga pukul 16.15 WITA.

Fakta menarik dan bermanfaat
Pemandangan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), salah satu produsen nikel terbesar di Konawe Utara. (Foto: RIZA SALMAN/AFP)

Pemandangan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), salah satu produsen nikel terbesar di Konawe Utara. (Foto: RIZA SALMAN/AFP)

ITSS merupakan salah satu perusahaan swasta asal China yang beroperasi di kawasan IMIP, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Lebih lanjut Dedy menjelaskan kronologis insiden tersebut. Ia mengatakan tungku smelter nomor 41 yang terbakar awalnya masih ditutup untuk operasi pemeliharaan. Saat tungku tersebut sedang tidak beroperasi dan dalam proses perbaikan, terdapat sisa slag atau ampas yang menyerupai batu kaca dalam tungku yang keluar. Slag tersebut bersentuhan dengan barang-barang yang mudah terbakar di lokasi. Akibatnya, dinding tungku lalu runtuh dan sisa slag mengalir keluar sehingga menyebabkan kebakaran.

“Akibatnya, pekerja yang berada di lokasi mengalami luka-luka hingga korban jiwa. Hasil identifikasi penyebab kecelakaan ini sekaligus menegaskan bahwa tidak ada tabung oksigen yang meledak seperti diinformasikan sebelumnya,” jelas Dedy.

Selain itu manajemen PT IMIP, telah membentuk tim penanganan dampak kecelakaan kerja di lokasi pabrik ITSS

Bentuk Tim Independen

Katsaing dari Partai Buruh dan Serikat Pekerja Indonesia Sejahtera di Morowali mendesak agar pemerintah segera membentuk tim pencari fakta yang independen untuk mengungkap secara utuh penyebab terjadinya kecelakaan kerja tersebut.

“Terjadinya insiden hari ini betul-betul bisa dibuka, terbuka bukan mendapat informasi sepihak dari pengusaha,” kata Katsaing dihubungi VOA.

Pemerintah, menurut Katsaing, sudah harus mengambil tindakan-tindakan untuk memastikan pengusaha dan perusahaan untuk menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Selama ini, penerapan K3 belum berjalan sesuai aturan karena masih ditemukannya pelaksana pengawas K3 yang ditunjuk oleh perusahaan belum memiliki sertifikasi K3 serta minim pelatihan.

Karyawan perusahaan nikel PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) tampak bersiap akan pulang usai bekerja di Konawe, 14 April 2023. (Foto: RIZA SALMAN/AFP)

Karyawan perusahaan nikel PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) tampak bersiap akan pulang usai bekerja di Konawe, 14 April 2023. (Foto: RIZA SALMAN/AFP)

Kecelakaan Kerja yang Berulang

Secara terpisah, Kepala Advokasi dan Kampanye WALHI Sulawesi Tengah, Aulia Hakim, mengatakan kecelakaan kerja yang menewaskan pekerja di pabrik semelter nikel di Morowali merupakan peristiwa yang telah beberapa kali terjadi. Pada 27 April 2023 dua pekerja dumping milik PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Industry yang juga berada dalam kawasan PT IMIP mengalami kecelakaan kerja sehingga merenggut nyawa dua pekerja.

Sedangkan di Kabupaten Morowali Utara, ledakan tungku smelter di kawasan Industry nikel PT Gunbuster Nickel Industry pada 22 Desember 2022 menyebabkan tewasnya dua pekerja. Dalam catatan WALHI Sulteng, selama periode 2022-2023 tidak pernah satupun perusaan yang diberikan sanksi tegas oleh pemerintah atas kecelakaan kerja yang merenggut nyawa pekerja itu.

“Artinya dari beberapa rentetan kejadian kecelakaan kerja ini, mereka (pemerintah-red) tidak pernah memberikan sanksi dan itu tidak transparan begitu, penyelesaiannya pun tidak diberikan transparan ke publik, artinya kita punya keraguan juga bahwa negara atau pemerintah tidak mampu, memiliki kapasitas mengintervensi jalannya roda bisnis di dalam,” papar Aulia Hakim.

Komplek PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali, Sulawesi Tengah (foto: Wikipedia).

Komplek PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali, Sulawesi Tengah (foto: Wikipedia).

Kemenko Marves Kirim Tim

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Septian Hario Seto, menyatakan pihaknya telah meminta PT IMIP untuk mengutamakan penanganan korban dan keluarga mereka. Selain itu juga dilakukan koordinasi intensif dengan IMIP dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat untuk memastikan bahwa respon dilaksanakan cepat dan efektif.

“Pihak Kawasan telah membentuk tim khusus yang bertanggung jawab atas penanganan pasca kecelakaan, termasuk dukungan emosional bagi keluarga korban dan analisis menyeluruh atas penyebab kecelakaan. Langkah ini untuk memastikan bahwa semua aspek kecelakaan ini ditangani dengan serius dan profesional,” terang Septian Hario Seto.

Kemenko Marves juga meminta dilakukannya penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui penyebab kecelakaan ini dan meminta pihak kawasan berkomitmen untuk transparansi dan akan membagikan informasi segera setelah tersedia.

“Untuk memastikan bahwa semua aspek penanganan kecelakaan ini berjalan sesuai rencana, tim dari Kemenko Marves akan segera berangkat untuk memeriksa kondisi di lapangan,” jelas Septian Hario Seto. [yl/ah]

Sumber: VOA

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply