Sejarah Tsunami Jakarta Disebut Bisa Sapu Istana, Ini Penjelasan BMKG

  • Share
Ilustrasi dari pixabay.com

PANTAU24.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut tsunami memang pernah menyapu Jakarta akibat gempa Megathrust Selatan Jawa, tepatnya di sekitar Selat Sunda.
Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, sejarah tsunami yang pernah melanda Jakarta terjadi pada 27 Agustus 1883 akibat erupsi katastropik Gunung Krakatau di Selat Sunda.

Hal ini disampaikan Daryono menanggapi hasil kajian pemodelan ITB yang memperkirakan dampat tsunami akibat gempa di kawasan Megathrust potensi tsunami dampak megathrust di selatan Jawa yang capai Jakarta bahkan menyapu Istana.

“Erupsi katastropik ini menyebabkan runtuhnya badan Gunung Krakatau ke laut serta terjadinya kontak material erupsi yang panas dengan air laut sehingga memicu tsunami lebih dari 30 meter,” tulis Daryono lewat akun Instagram pribadinya @daryonobmkg, Senin (23/8).

Pada saat itu, kata Daryono, dahsyatnya tsunami mampu menimbulkan kerusakan di pulau Onrust yang merupakan bagian gugus pulau di Kepulauan Seribu.

“Sejak tahun 1848 Pulau Onrust dan sekitarnya difungsikan pemerintah Kolonial Belanda sebagai Pangkalan Angkatan Laut, namun sarana ini rusak berat diterjang tsunami tahun 1883,” lanjut Daryono.

Fakta menarik dan bermanfaat

Bataviaasch Handelsblad yang terbit pada 28 Agustus 1883, melaporkan Kedahsyatan tsunami tidak hanya menerjang pulau Onrust, tetapi juga menerjang Pantai Batavia (Jakarta) dan Tanjung Priok.

Tsunami menerjang daratan dan menghempaskan perahu-perahu di pantai Batavia. Suasana sangat kacau di perkampungan Cina yang notabene terletak di pinggiran sungai ketika airnya mendadak naik.

Daryono menyampaikan hasil analisis yang ia lakukan memperkirakan tsunami akibat gempa di kawasan Megathrust selatan Jawa bakal berpengaruh ke Jakarta jika terjadi di sekitar selat Sunda.

“Pemodelan tsunami Selat Sunda akibat gempa magnitudo 8,7 yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa tsunami dapat sampai pantai Jakarta,” tulis Daryono lewat akun Instagram (20/8).

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa tsunami sampai di Pantai Jakarta dalam waktu sekitar 3 jam setelah gempa, dengan tinggi 0,5 meter di Kapuk Muara – Kamal Muara dan 0,6 meter di Ancol – Tanjung Priok.

Pemodelan yang dilakukanDaryono digunakan untuk menanggapi pemodelan gempa yang dilakukan Ahli Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga Ketua Lembaga Riset Kebencanaan IA-ITB Heri Andreas mengingatkan potensi tsunami di selatan pulau Jawa bisa terjadi kapan saja dan jangkauannya bisa mencapai pesisir utara Jakarta, bahkan Istana Negara.

Berdasarkan hasil pemodelan, gelombang tersebut bisa sampai di pesisir Jakarta dengan ketinggian 1 meter hingga 1,5 meter dalam waktu 3 jam dari titik awal gelombang.

Lebih lanjut, kata Daryono, menyikapi hasil kajian terkait potensi tsunami dampak gempa megathrust di selatan Jawa yang berdampak hingga Jakarta, pada dasarnya BMKG selalu mengapresiasi setiap hasil riset potensi bencana dengan skenario terburuk untuk tujuan membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Menurutnya riset semacam itu diperlukan sebagai acuan mitigasi tsunami, sehingga perlu dibuat skenario yang paling pahit agar masyarakat semakin siap meski waktu terjadinya belum pasti.

Meski demikian masyarakat dihimbau agar tidak panik, karena kajian dibuat bukan untuk membuat resah, tetapi untuk mempersiapkan strategi mitigasi yang tepat dan efektif guna mengurangi risiko bencana.(*)



  • Share

Leave a Reply

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com