SULUT
Menjajakan buku di jalanan, mendirikan penerbitan

PANTAU24.COM—Supri Gantu, pemuda asal Desa Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) nampak berbeda dari anak muda kebanyakan.
Di tengah maraknya hedonisme di kalangan anak muda, Supri memilih menapaki jalan sunyi literasi. Berangkat dari hobi membaca, ia kemudian mulai menekuni usaha jual buku. Jalan terjal tak terelakkan.
Dengan segala keterbatasan, Supri mulai menjajakan buku dari kampus ke kampus, dari jalanan satu ke jalan yang lainnya di Kota Gorontalo sejak 2012 silam. Baginya, usaha jual buku adalah profesi mulia sebab membantu mendistribusikan berbagai macam pengetahuan.
Bahkan di saat harus pulang kampung ke Desa Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow, Supri tetap melanjutkan usaha buku yang telah dirintis. Ia mendirikan toko buku dengan nama Bulandu tepat di samping rumahnya. Ia sama sekali tak terpisah dari buku.
Supri berkisah, sebelum mendirikan toko buku Bulandu, ia pernah beberapa kali bekerjasama dengan beberapa toko buku yang punya sistem kepemilikan kolektif.

Tekad yang bulat ditambah dukungan moril orang tua membuatnya terus menekuni jalan sunyi literasi yang tak segemerlap dunia remaja masa sekarang. Toko buku Bulandu mulai ramai pembeli, bahkan hingga luar daerah.
“Orang tua justru mendukung, karena ibuku juga hobi membaca buku,” ucap Supri saat ditanya kemungkinan adanya tentangan dari orang tua atas pilihan profesi yang digemarinya.
Selain mendirikan offline store, Supri juga merambah online store melalui media sosial dan marketplace.
“Kalau di Facebook, Instagram dan Tokopedia, namanya tokonya sama, yakni Bulandu. Cuma di Shopee yang beda, namanya Buku Bolmong,” terang Supri sembari mengungkapkan, Bulandu punya stok buku setidaknya 1000 eksemplar yang tersimpan di gudang.
Pada tahun 2023, segala tekad dan persiapan bermuara pada didirikannya penerbitan independen dengan nama sama, Bulandu. Meski terbilang baru, penerbit Bulandu telah mengorbitkan banyak tulisan. Tak kurang dari 11 judul buku telah terbit melalui penerbit independen ini.
“Dan yang sementara digarap tahun 2025 ini ada 10 naskah. Jumlah ini tentunya akan bertambah seiring waktu,” beber Supri.
Ia berharap dengan adanya penerbit Bulandu dapat mempermudah akses bagi para penulis lokal di Bolaang Mongondow Raya (BMR) untuk mengorbitkan karya.
“Buku-buku yang kita terbitkan semuanya sudah punya ISBN (International Standard Book Number),” tutupnya.
Beberapa judul buku yang telah diterbitkan Bulandu:
Katalog Terbitan Bulandu:
Cinta Adalah Kata Kerja yang Benci Menyerah – karya Tyo Mokoagow
Hantu-Hantu Dekonstruksi: Dari Derrida ke Monkey D. Luffy – karya Reza Adeputra Tohis
ITU: Sebuah Naskah Dramaturgi – karya Panji Gozali
Seni Berfilsafat di Ruang Akademik – karya Reza Adeputra Tohis
Perempuan-Perempuan Mongondow – karya Anil Ardhani
Tuhan Tidak Hidup dalam Diri Manusia – karya YH Harahap
Tan Malaka: Filsafat Revolusi & Nalar Pembebasan – karya Reza Adeputra Tohis
Tuhan, Agamamu Apa? – karya Samsi Pomalingo
Lini penerbitan Bulandu:
Bolaang Mongondow: Sejarah, Perlawanan dan Kolonialisme – karya Wahyu Pratama Andu
Abad Transisi: Bolaang Mongondow dalam Catatan Kolonial Abad XIX-XX – karya Murdiono Mokoginta
Monibi: Jalan Panjang Pemajuan Kebudayaan di Bolaang Mongondow – karya Rivo Ronaldo Ingkiriwang

You must be logged in to post a comment Login